Selasa, 13 Desember 2011

BERGEMBIRA DENGAN KEMISKINAN Oleh : Sumardiyono

PENDAHULUAN

Kehidupan ini tidaklah berjalan sesuai dengan keingingan kita atau bahkan jauh dari apa yang menjadi keinginan kita dan apa yang kita bayangkan di hari-hari sebelumnya. Banyak di antara kita yang membayangkan akan mempunyai isteri yang cantik, kaya, pinter atau yang menurut keinginan kita wanita yang sempurna yang tidak punya kekurangan sedikitpun. Namun ternyata setelah kita mendapatkan isteri yang tidak sesuai dengan keinginan kita, banyak di antara kita yang kecewa berat bahkan prustasi, stress dan lain sebagainya.
Para mahasiswa membayangkan setelah lulus kuliah akan mudah mendapatkan pekerjaan yang mapan bagi ukuran seorang sarjana dan mempunyai penghasilan yang besar. Namun ternyata setelah lulus kuliah jangankan mendapatkan pekerjaan yang mapan bagi ukuran seorang sarjana, pekerjaan yang kurang mapanpun tidak mereka dapatkan sehingga sebagian dari mereka ada yang setress bahkan ada yang gila.
Ada dua orang yang sudah berpacaran bertahun-tahun dan sudah merencanakan pernikahan dalam waktu yang dekat karena keluarga kedua belah pihak sudah menyetujuinya. Mereka berdua sudah yakin kalau mereka berdua akan menjadi suami isteri. Begitu juga dengan kedua orang tua mereka, saudara-saudara mereka, sahabat-sahabat mereka juga yakin kalau mereka berdua akan segera menjadi suami isteri. Namun ternyata takdir berbicara lain, calon penganten laki-laki meninggal karena kecelakaan. Dan calon penganten perempuan menjadi steress dan akhirnya menjadi gila.
Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa apa yang menjadi keinginan kita belum tentu akan terwujud dan kadang-kadang apa yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya bisa saja terjadi. Dan boleh jadi kenyataan hidup yang kita alami lebih baik dari apa yang kita bayangkan sebelumnya atau tidak pernah kita bayangkan. Contoh : Ada seorang yang tidak pernah membayangkan dirinya bisa naik haji karena dia tidak punya biaya untuk ke Tanah Suci. Namun karena kebetulan dia orang yang pintar ngaji (seorang ustadz) dan diminta oleh seorang yang kaya raya yang anaknya nakal luar biasa untuk membimbing anak tersebut dan ternyata tersebut akhirnya menjadi anak yang sholeh dan patuh kepada kedua orang tuanya, karena saking gembiranya orang kaya tersebut diberilah ustadz tersebut hadiah naik haji ke tanah suci. Begitu juga banyak orang tidak pernah membayangkan kalau dirinya akan menjadi orang yang miskin, padahal tadinya dia seorang yang kaya raya dan terpandang di lingkungan dia tinggal. Kemiskinan yang melandanya menyebabkan dia stress, prustasi, gila bahkan sebagian lagi ada yang nekat bunuh diri.
Banyak orang yang takut menjadi orang menjadi takut miskin, bahkan kalau kita bertanya kepada orang-orang di sekitar kita : “Maukah anda menjadi orang yang miskin?” Jawabannya sudah jelas pasti “Tidak mau. Kemiskinan bagi semua orang adalah monster yang mengerikan yang wajib dijauhi. Tak ada satupun orang yang ada di dunia ini yang mau dengan suka rela menjadi orang miskin. Sebagian masyarakat kita memandang kemiskinan itu adalah suatu aib, sesuatu yang hina, sesuatu yang menjijikan. Bahkan sebagian besar masyarakat kita lebih menghormati orang yang kaya raya, punya status sosial yang terpandang di masyarakat dari pada orang yang pandai, alim namun dalam kondisi miskin tak punya harta benda. Banyak di antara masyarakat kita yang masih mendudukan orang miskin sebagai masyarakat nomor dua, orang miskin tidak diberi kesempatan untuk menjadi kepala desa, menjadi bupati, gubernur ataupun presiden. Karena untuk menjadi mereka masyarakat meminta cost yang sangat tinggi dan ini tentunya sangat berat bagi orang-orang yang miskin meskipun ia memilik kemampun intelektual untuk menjadi lurah, menjadi bupati atau gubernur. Banyak orang-orang miskin yang memiliki kecerdasan yang tinggi, namun karena mahalnya biaya maka mereka tidak bisa mengenyam pendidikan yang lebih tinggi apalagi untuk melanjutkan ke perguruan tinggi yang bonafit misalnya : UII dan UGM.
Dalam tulisan ini saya mengajak anda untuk tidak takut dengan kemiskinan dan menghadapinya dengan kesabaran, tawakal kepada Allah dengan tidak melupakan ikhtiyar kepada Allah dan menjauhi sikap putus asa dari rahmat Allah swt. Allah swt berfirman :
وَلَا تَيْئَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لَا يَيْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ
“Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir. (QS. Yusuf : 87)
Dengan berlandaskan ayat ini hendaknya kita senantiyasa mempunyai sikap optimis dalam menghadapi hidup ini meskipun dalam keadaan sulit. Oleh karena itu saudara-saudaraku yang dalam keadaan sempit rizki, dalam keadaan miskin hendaknya senantiyasa mempunyai keyakinan diri kalau Allah akan memberikan kepada anda semua jalan dari kesulitan yang anda hadapi termasuk dalam masalah rizki. Banyak orang yang kurang percaya akan pertolongan Allah, sehingga ketika dirinya ditimpa kesulitan ekonomi banyak yang lari dari Allah dan minta pertolongan kepada selain Allah misalnya minta pertolongan kepada dukun,jin dan lain sebagainya. Bahkan ada di sekitar kita orang-orang yang tega menjadikan tumbal anaknya demi untuk mendapatkan kekayaan yang berasal dari syetan, bahkan ada juga yang rela menjual anak gadisnya menjadi seorang pelacur dan orang tua dari gadis tersebut tega meminta hasil dari anaknya bekerja sebagai pelacur.
Bila kita mau belajar dari pengalaman orang-orang yang ada di sekitar kita akan kita ketahui banyak orang-orang yang besar, banyak para pemimpin dunia yang lahir dari keluarga miskin. Banyak pengusaha besar yang berangkat dari kondisi yang miskin, serba paspasan dan tidak berangkat dari kemewahan hidup. Dan tidak sedikit pula orang yang tadinya mempunyai kekayaan yang melimpah ruah kemudian menjadi orang yang miskin. Bila kita masih ingat peristiwa 27 Mei 2006 yaitu peristiwa gempa yang melanda Yogyakarta, peristiwa tsunami di Aceh maka akan kita lihat berapa ratus orang yang kehilangan hartanya yang mereka kumpulkan dalam waktu yang lama. Dan bagi anda yang hidup dalam kondisi miskin hendaknya berfikir bahwa kita lahir di dunia ini
Saudara-saudaraku! Janganlah kemiskinan yang menimpa anda menjadi penghalang anda untuk mencapai kebahagian, jangan jadikan kemiskinan yang menimpa diri anda sebagai penghalang untuk beribadah kepada Allah swt. Yakinlah Allah senantiyasa bersama anda dan akan senantiyasa menolong anda!
BAB I
SEMUA MAKHLUK PASTI DIBERI RIZKI OLEH ALLAH


Setiap yang hidup di dunia ini pasti diberi oleh Allah rizki baik manusia, tumbuhan dan binatang. Bahkan seokor binatang terkecil di lautanpun pasti diberi rizki oleh Allah swt.Allah tidak bersikap pilih kasih kepada makhluknya, artinya tidak ada satupun dari makhluk Allah yang ada di muka bumi dibiarkan saja oleh Allah tanpa diberi rizki oleh Allah. Allah berfirman :
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ )هود :٦(
“Dan tidak ada satu pun makhluk bergerak (bergerak) di muka bumi melainkan semuanya dijamin oleh Allah rizkinya.” (QS. Hud : 06)
Allah akan menjamin rizki setiap makhluk yang diciptakan oleh Allah baik itu beriman ataupun tidak beriman bagi Allah siapapun yang berusaha pasti akan diberinya, meskipun besar kecilnya tidak sama. Karena urusan rizki sudah ditentukan oleh Allah ketika kita masih berada di kandungan ibu kita, tepatnya ketika ruh ditiupkan oleh malaikat di tubuh kita. Dalam hal ini dapat kita lihat dalam hadits Nabi saw dari Ibnu Mas’ud ra :
“ Sesungguhnya salah seorang dari kamu dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya selama empat puluh hari berupa nuthfah (seperma) begitulah seterusnya, kemudian menjadi darah begitulah seterusnya, kemudian menjadi daging begitulah seterusnya. Kemudian diutuslah malaikat yang meniupkan ruh kepadanya dengan empat kalimat :
1. Ditulis rizqinya.
2. Kematiannya.
3. Pekerjaannya.
4. Bahagia dan sengsara (masuk surga atau masuk neraka).
Berdasarkan hadits tersebut di atas sudah sangat jelas kalau masalah rizki kita sudah di tentukan oleh Allah swt. Oleh karena itu kita tidak perlu menyesali diri seandainya Allah menjadikan diri kita orang yang miskin. Tidak ada gunanya bagi kita jika kita menangisi kemiskinan kita, tanpa kita mau berusaha untuk menggapai karunia-Nya. Allah telah memberikan sarana bagi kita untuk menggapai karunia-Nya baik berupa kemampuan berpikir, tenaga kita, ketrampilan yang kita miliki, itu semua merupakan potensi yang diberikan Allah kepada kita semua. Bukankah Allah juga telah menyediakan di sekeliling kita sumber rizki yang melimpah? Bukankah Allah juga telah menjadikan wasilah orang-orang di sekitar kita sebagai perantara kita mendapatkan rizki Allah swt? Bukankah kesehatan yang Allah berikan kepada kita itu juga merupakan rizki dari Allah swt? Saya sangat tidak setuju bila ada orang yang mengatakan Allah tidak memberikan rizki kepadanya karena dia dalam kondisi miskin.
Di dalam Al Quran dapat kita ketahui betapa melimpahnya rizki yang Allah berikan kepada kita. Tanah yang subur, sungai atau lautan yang ikannya melimpah, tambang yang tersimpan di dalam tanah juga merupakan rizki yang melimpah yang diberikan Allah kepada manusia. Allah berfirman :
وَهُوَ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ حَتَّى إِذَا أَقَلَّتْ سَحَابًا ثِقَالًا سُقْنَاهُ لِبَلَدٍ مَيِّتٍ فَأَنْزَلْنَا بِهِ الْمَاءَ فَأَخْرَجْنَا بِهِ مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ كَذَلِكَ نُخْرِجُ الْمَوْتَى لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ (الاعـراف :٥٧)
“ Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa kabar gembira, mendahului kedatangan rahmat-Nya (hujan), sehingga apabila angin itu membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu. Kemudian Kami tumbuhkan dengan hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.” (QS. Al A’rof : 57).
هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لَكُمْ مِنْهُ شَرَابٌ وَمِنْهُ شَجَرٌ فِيهِ تُسِيمُونَ . يُنْبِتُ لَكُمْ بِهِ الزَّرْعَ وَالزَّيْتُونَ وَالنَّخِيلَ وَالْأَعْنَابَ وَمِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (النحل :١٠-١١)

“Dialah yang telah menurunkan air (hujan) dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuhan, padanya kamu menggembalakan kambing. Dengan air hujan itu Dia menumbuhkan untuk kamu tanam-tanaman, zaitun, kurma anggur dan segala macam buah-buahan. Sungguh pada yang demikian itu terdapat benar-benar terdapat tanda- tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berfikir.” (QS. An Nahl : 10-11).
Ayat ini memberikan gambaran dengan jelas bahwa Allah memberikan rizki kepada makhluk-Nya dapat berupa hujan yang turun ke muka bumi ini. Kanapa demikian? Karena dengan hujan tumbuh-tumbuhan akan hidup dan akhirnya buah-buahan akan keluar dari tumbuh-tumbuhan tersebut yang akhirnya buah-buahan itu juga merupakan rizki untuk manusia juga. Di dalam ayat-ayat di atas sangatlah jelas kalau buah-buahan yang tumbuh itu beraneka ragam dan semua itu untuk manusia. Bukankah banyak orang yang hidup dengan dengan menanam pohon-pohonan yang menghasilkan buah-buahan? Berapa banyak orang-orang yang dapat naik haji, membiayai anak-anaknya dengan menjadi petani buah? Kemudian dengan hujan itu pula rumput-rumput dapat tumbuh dengan subur, sehingga banyak binatang yang tidak mati kelaparan dan sebagian binatang-binatang tersebut dipelihara oleh manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Bukan itu semua rizki yang disediakan oleh Allah buat kita semua termasuk anda saudara-saudaraku yang hidup dalam kemiskinan?
Pernahkah anda berfirkir bagaimana semut-semut itu mendapatkan rizki Allah padahal mereka tidak mempunyai akal dan ketrampilan? Di dalam Buku Karangan Harun Yahya yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dengan judul “Selamat Datang Di Dunia Semut” dapat kita ketahui bagaimana Allah memberikan rizki kepada semut. Di dalam buku itu digambarkan dengan jelas bagaimana kehidupan semut mulai dari system keamanan, bagaimana semut-semut itu berkembang biak lalu bagaimana mereka mencari makanan. Di dalam buku dapat kita ketahui bahwa di dalam dunia semut ada system kerja yang rapi yaitu dengan adanya ratu sebagai penghasil keturunan, semut pejantan sebagai semut yang membuahi telur-telur ratu semut. Kemudian di koloni semut ada semut prajurit yang bertugas mencari makanan dan menjaga keamanan, semut-semut mandul yang bertugas menjadi semut pekerja dan menyiapkan makanan untuk semut ratu dan bayi-bayi semut.
Sekali lagi tidak kita berpikir semut yang tidak sekolah, tidak punya akal bisa mencari makan kenapa manusia yang punya akal tidak bisa mencari makan? Banyak orang yang meragukan akan hal ini dengan membuat ungkapan “Sekarang mencari kerja susah.” Betul mencari pekerjaan tidak mudah, tetapi apakah kalau mencari pekerjaan itu sulit berarti Allah tidak menyediakan rizki untuk makhluk-Nya? Bukan Allah menyatakan bersama kesusahan itu ada kemudahan? Kalau anda meragukan hal ini berarti anda tidak beriman kepada Allah swt?
Begitu juga dengan lebah, barangkali tidak terpikirkan oleh kita bagaimana lebah-lebah tersebut mencari makan, bagaimana mereka dapat membuat rumah-rumah yang kokoh, bagaimana mereka dapat mengenali kelompoknya, bagaimana mereka dapat menghasilkan madu yang enak rasanya dan banyak mengandung khasiat. Bahkan di dalam Al Quran dikatakan kalau madu dapat dijadikan sebagai obat. Allah berfirman :
وَإِنَّ لَكُمْ فِي الْأَنْعَامِ لَعِبْرَةً نُسْقِيكُمْ مِمَّا فِي بُطُونِهِ مِنْ بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ لَبَنًا خَالِصًا سَائِغًا لِلشَّارِبِينَ (٦٦) وَمِنْ ثَمَرَاتِ النَّخِيلِ وَالْأَعْنَابِ تَتَّخِذُونَ مِنْهُ سَكَرًا وَرِزْقًا حَسَنًا إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَةً لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ (٦٧)
“Dan Tuhanmu telah mengilhamkan kepada lebah, Buatlah sarang di gunung-gunung, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia. Kemudian makanlah dari segala (macam) buah-buahan lalu tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu)” Dari perut lebah itu keluarminuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sungguh pada yang demikian itu terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berfikir.” (QS. An Nahl : 68-69).
Subhanallah! Alangkah luar biasa kekuasaan Allah memberikan rizki kepada makhluk-makhluk-Nya di antaranya rizki yang Allah berikan kepada lebah. Pada ayat-ayat di atas sudah sangat jelas bagi kita bahwa lebah dapat mencari makan, membuat rumah, di dalam perutnya terdapat obat yang berguna bagi manusia semuanya adalah karena kekuasaan Allah. Tidak mungkin lebah yang tidak punya akal, tidak pernah belajar arsitek mampu membuat tempat tinggal yang kokoh, sehingga lebah-lebah itu dapat hidup tenang dan menghasilkan madu yang berkhasiat bagi manusia. Dan ternyata bila kita pahami ada kesamaan antara semut dan lebah dalam kehidupan mereka, baik system pembuatan rumah, system keamaan koloni mereka ataupun dalam mendapatkan rizki.
Dan apabila Allah akan memberikan rizki kepada hamba-hamba-hamba yang dikehendaki-Nya, maka tak ada satu orangpun yang akan sanggup menahan rizki tersebut. Allah swt berfirman :
مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلا مُمْسِكَ لَهَا وَمَا يُمْسِكْ فَلا مُرْسِلَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ ) ٢فاطر : ٢ (
“Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorang pun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Fathir : 2)
Di dalam Kitab Dzurrotun Nashiin dikisahkan sebagai berikut :
Ada seorang ulama yang ingin mengetahui bagaimana Allah memberikan rizki pada hamba-Nya. Kemudian ulama tersebut pergi mengembara, sampailah dia di sebuah gua, di gua tersebut ulama tadi beristirahat. Dan ulama itu merasa lapar dan ia tidak membawa bekal sedikitpun.
Pada suatu hari ada seorang pemuda yang mampir ke dalam gua tersebut untuk beristirahat setelah ia melakukan perjalanan jauh. Kemudian pemuda tadi merasa lapar, maka dibukalah bekal yang dibawanya. Tiba-tiba pandangan matanya tertuju kepada lelaki tua yang kelihatannya lelah dan kelaparan. Maka pemuda tadi bermaksud hendak mmeberikan sebagian bekal yang ia bawa kepada orang yang dilihatnya tersebut. Ia mendekati orang ulama tersebut sambil berkata : “Pak tua silakan makan bersama saya!”
Dan ulama tersebut tidak menjawab perkataan pemuda tersebut. Kemudian pemuda tersebut meletekkan makanan di hadapan ulama tersebut dan pemuda tersebut meminta agar ulama tersebut memakanan makanan yang di hadannya, tetapi ulama itu tidak memakan saja dan hanya diam saja. Karena pemuda tersebut merasa iba melihat ulama tersebut, maka pemuda tadai membuka mulut ulama tersebut dan memasukkan makanan tersebut ke dalam mulut ulama tersebut. Maka ulama itu pun tertawa terbahak-bahak dan pemuda tersebut keheranan dengan tingkah laku ulama tersebut. Maka ulama tersebut menjelaskan kepada pemuda yang di hadapannya tersebut semata-mata hanya ingin mengetahui bagaimana Allah memberikan rizki kepada hamba-hamba-Nya.
Dari cerita ini dapat kita ketahui , kalau Allah berkuasa memberikan rizki kepada hamba-Nya baik dengan asbab ataupun tanpa dengan asbab. Banyak rizki Allah yang diberikan kepada hamba-Nya dengan jalan yang tanpa di sangka-sangka atau min haitsu laa yahtasibu. Ulama tadi mendapatkan rizkinya tanpa dengan asbab (tanpa bekerja).




BAB II
RIZKI SETIAP MAKHLUK TIDAK SAMA

Sebagaimana telah saya sampaikan pada bab terdahulu, kalau Allah pasti memberikan rzki kepada semua makhluk-Nya. Namun yang perlu kita insafi adalah rizki antara yang satu dengan yang lain tidaklah sama. Ada orang yang diberi rizki yang sedikit, ada yang sedang dan ada yang banyak bahkan sampai ada yang berlebih (jawa ; torah-turah). Hal itu bukan berarti Allah tidak adil, tetapi itu sebagai bentuk ujian dari Allah bagi hamba-hamba-Nya. Dan ini menjadi hak penuh Allah swt sebagai sang Kholik. Dan Allah memberikan rizki kepada makhluk-Nya sesuai dengan kebutuhannya. Nabi saw bersabda :
“Sesungguhnya pintu-pintu rizki itu menghadap ke arah ‘Arsy, lalu Allah swt menurunkan rizki-rizki itu kepada manusia sesuai dengan kemampuan nafkah (biaya) mereka; barangsiapa yang banyak nafkahnya, diperbanyak pula rizkinya, dan barangsiapa yang sedikit nafkahnya, maka sedikit pula rizkinya.” (HR. Daruquthni dari Anas ra).
Dari hadits ini dapat kita ketahui kalau Allah swt memberikan rizki sesuai dengan banyak sedikitnya tanggungan kita. Semakin besar tanggungan kita semakin besar pula rizki yang diberikan Allah kepada kita, semakin kecil tanggungan kita semakin kecil pula rizki yang Allah berikan kepada kita. Kalau rizki yang kita dapatkan sedikit barangkali di hadapan Allah tanggungan kita tidak banyak, Allah memberikan sesuatu pada kita sesuai dengan kemampuan dan kondisi kita. Atau barangkali Allah swt memberikan kita rizki yang sedikit pada kita adalah untuk menguji keimanan kita dan kesabaran kita atau barangkali untuk menyelamatkan kita dari perkara yang tidak baik untuk kita atau agar kita tetap taqwa kepada Allah swt.
Allah swt berkuasa untuk menyempitkan dan memudahkan rizki yang diberikan kepada makhluk-Nya. Jika Allah hendak memudahkan rizki yang diberikan kepada hamba-Nya sangatlah mudah bagi Allah dan tak ada yang sanggup menghalang-halangi-Nya, begitu juga bila Allah mempersempit rizki hamba-Nya tak akan ada yang mampu menghalang-halangi pula.
Allah berfirman :
اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍعَلِيمٌ (العنكبوت :٦٢ )
“Allah melapangkan rizki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Al Ankabut : 62).
Kita sering melihat di sekeliling kita orang-orang yang begitu mudah mencari rizki berupa materi, apapun yang dia lakukan bisa menjadi uang. Banyak orang yang pekerjaannya kelihatannya ringan tapi penghasilannya banyak. Sebaliknya ada juga orang yang sudah bekerja keras tanpa mengenal lelah namun hasilnya masih saja minim dan tidak bisa untuk memenuhi kebutuhannya. Bahkan ada orang yang sama sekali tidak punya penghasilan meskipun ia sudah berusaha keras untuk mendapatkannya. Dan rizki itu seperti bayangan, kalau kita kejar dia akan lari dan kalau kita diam rizki kita juga diam. Dan memang Allah swt melebihkan rizki di antara makhluk yang satu dengan yang lain, tidak hanya saja manusia yang rizkinya tidak sama. Rizki yang diberikan kepada gajah tidak sama dengan rizki yang diterima semut, rizki ayam kalkun tentu berbeda dengan rizki burung pipit, artinya rizki yang diterima oleh kita sesuai dengan kekuatan kita dan kebutuhan kita. Kalau semut menerima rizki yang diberikan kepada gajah barangkali semut akan kekenyangan karena perut semut tidak sama dengan perut gajah. Allah berfirman :
وَاللَّهُ فَضَّلَ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الرِّزْقِ فَمَا الَّذِينَ فُضِّلُوا بِرَادِّي رِزْقِهِمْ عَلَى مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَهُمْ فِيهِ سَوَاءٌ أَفَبِنِعْمَةِ اللَّهِ يَجْحَدُونَ (النحل : ٧١)

“Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebagian yang lain dalam hal rezki, tetapi orang-orang yang dilebihkan (rezkinya itu) tidak mau memberikan rezki mereka kepada budak-budak yang mereka miliki, agar mereka sama (merasakan) rezki itu. Maka mengapa mereka mengingkari nikmat Allah?” (QS. An Nahl : 71)

Jika kita melihat orang yang diberi kelebihan rizki dibanding dengan kita, hendaknya kita tidak iri, sebaiknya kita instrofeksi diri dan bertanya kepada diri kita apa yang menyebabkan rizki kita tertinggal jauh dengan orang tersebut. Kita hendaknya menyadari, barangkali kita kurang bersungguh-sungguh dalam bekerja keras. Barangkali orang tersebut lebih pandai membaca peluang untuk mendapatkan rizki, barangkali orang tersebut mempunyai keahlian yang dibutuhkan orang banyak sementara kita tidak. Masih banyak faktor yang menyebabkan rizki kita tidak sama dengan orang lain, dengan kata lain banyak faktor yang menyebabkan rizki orang lebih banyak dari rizki yang kita peroleh di samping barangkali memang sudah ditakdirkan oleh Allah swt. Bila kita lihat pada kehidupan kita sehari-hari, kita lihat ada 2 orang penjual bakso yang mempunyai kelezatan rasa yang sama dan sama-sama berjualan di tempat yang strategis. Tetapi mengapa yang satu lebih laris dari yang lain? Barangkali penjual bakso yang satu lebih ramah dari penjual yang lain, barangkali penjual bakso yang satu lebih lebih menjaga kebersihan dari penjual bakso yang satunya, sehingga orang lebih suka beli bakso pada penjual yang satu dari pada penjual yang lain.
Begitulah Allah memberikan jalan kepada hamba-Nya untuk memberikan rizki yang lebih banyak dari hamba Allah yang lain. Namun kebanyakan dari kita mempunyai sifat iri kepada orang yang lebih sukses dari kita, dan sebenarnya hal itu merupakan salah satu gejala dari penyakit kejiwaan. Bagi orang yang demikian itu kalau tidak bisa menghilangkan sifat irinya, dirinya bisa terkena penyakit stroke, bisa kena penyakit darah tinggi yang bisa mengakibatkan dirinya mati. Dalam sejarah awal manusia dapat kita lihat bagaimana iblis iri terhadap Nabi Adam as yang diberikan kelebihan oleh Allah swt dengan ilmu, sehingga iblis tidak mau sujud (hormat) kepada Nabi Adam as. Akibatnya Iblis dilaknat oleh Allah hingga hari kiamat. Oleh karena kita hendaknya belajar dari sejarah untuk menjauhi sifat iri terhadap orang yang lebih berhasil dari pada kita. Kita hendaknya tidak sungkan belajar kepada orang yang lebih berhasil dibanding kita dari segi materi, meskipun barangkali orang tersebut secara lahir di bawah kita (baca; pendidikan, umur) tetapi barangkali orang tersebut mempunyai kelebihan yang kita tidak punya. Nabi saw bersabda :
كُلُّ شَيْءٍ مَزِيَّةٌ
“Setiap sesuatu pasti punya keistimewaan.” (Al Hadits).
Allah swt berkuasa penuh untuk memberi rizki kepada siapa saja yang Ia kehendaki serta berkuasa penuh mencabut rizki siapa saja yang Ia kehendaki. Allah swt juga berkuasa mengangkat derajat siapa yang Ia kehendaki serta berkuasa penuh menjatuhkan derajat siapa saja yang Ia kehendaki. Allah berfirman :
قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (26)
“Katakanlah : Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasan kepada siapa saja yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan siapa saja yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali Imran : 26).
Ayat ini memberikan penjelasan kepada kita bahwa Allah jika menghendaki anda sebagai orang kaya raya tentulah sangat mudah bagi Allah. Begitu juga jika Allah menjadikan kita sebagai orang yang miskin tentulah sangat mudah bagi Allah swt. Kita barangkali pernah membaca sejarah kehidupan Bob Sadino seorang pengusaha besar. Sebelum sebagai seorang pengusaha besar beliau adalah seorang kuli, kemudian berjualan telur sampai akhirnya beliau menjadi seorang pengusaha besar. Itulah bukti kekuasaan Allah untuk memberikan kemudahan kepada hamba-Nya dalam mencari rizki.
Allah melebihkan rizki antara hamba yang satu dengan hamba yang lain supaya ada tolong menolong di antara mereka. Seandainya semua makhluk (manusia) rizkinya sama tentunya akan merugikan manusia itu sendiri. Apa sebabnya? Karena tidak akan ada lagi tolong-menolong, tidak ada lagi rasa saling menghargai dan tidak rasa persaudaraan. Bila rizki semua manusia sama, maka tidak akan ada rasa saling membutuhkan. Bayangkan jika rizki semua manusia sama, tidak perlu lagi ada petani, tidak perlu lagi ada buruh bangunan dan pasti kehidupan ini tidak akan indah.
Sebagaimana telah saya sampaikan di depan, kalau Allah melebihkan rizki di antara satu hamba-Nya dengan hamba Allah yang lain. Dan yang dimaksud kelebihan rizki ini tidak mesti berupa materi, karena rizki itu bisa berupa :
1. Kesehatan
2. Sakit
3. Uang
4. Rumah
5. Anak dan isteri
6. Peluang Usaha
7. Bisnis
8. Jabatan
9. Popularitas
10. Kecerdasan
11. Teman
12. Dan lain-lain
Ada di antara hamba Allah yang dilebihkan dalam masalah kecerdasan, dia begitu mudah paham terhadap apa saja yang ia pelajari. Contoh : Imam Syafii yang hapal Al Quran pada usia 10 tahun. Ada juga orang yang diberikan kelebihan cepat punya keturunan, karena ada orang yang sudah lama menikah namun sulit mendapatkan keturunan meskipun ia telah berupaya dengan sekuat tenaga. Ada orang yang diberikan kemudahan dalam hal masalah jodoh, karena ada orang yang sulit mendapatkan jodoh. Ada orang yang diberikan rizki berupa kemudahan mendapatkan teman, karena ada orang yang sulit mendapatkan teman. Ada orang yang diberi kelebihan dalam mencari peluang usaha sementara ada orang yang tidak bisa mencari peluang dalam berusaha. Begitulah Allah memberikan kelebihan kepada hamba yang satu dengan hamba yang lain. Kemudian anda barang kali bertanya-tanya “ Mengapa sakit juga merupakan rizki dari Allah? Jawabannya dengan sakit orang akan terhapus dosanya. Jika dosa-dosanya terhapus sudah pasti dia akan masuk surga. Bukankah surga merupakan rizki terbesar bagi manusia bila dibandingkan dengan rizki yang telah saya sebutkan di atas.
Jika anda bisa menerima kalau Allah memang melebihkan rizki di antara hamba-hamba-Nya, maka hati anda tidak gelisah, stress, minder, kecewa dan lain sebagainya. Yakinlah Allah juga memberikan hal yang lebih kepada anda dalam masalah rizki. Misalnya :
1. Anda diberi kesehatan
2. Anda diberi ilmu yang banyak
3. Anda punya banyak teman
4. Anda disukai banyak orang
5. Dan lain sebagainya.
Dan yang paling utama adalah anda harus mensyukuri apa yang diberikan oleh Allah kepada anda. Dengan rasa syukur yang anda miliki, maka Allah akan menambahkan kenikmatan-Nya kepada anda. Anda akan diberi kemudahan dalam mencari rizki Allah dan diberikan solusi terhadap permasalahan yang anda hadapi. Namun jika anda ingkar terhadap nikmat Allah, Allah akan menambahkan kesulitan yang anda hadapi baik kesulitan ekonomi, kesulitan dalam mendidik anak dan lain sebagainya.
Tanda orang yang berbahagia adalah orang yang memandang orang di bawahnya dalam masalah dunia, sedangkan tanda orang celaka adalah orang yang memandang orang yang di atasnya dalam hal masalah dunia. Apakah anda ingin menjadi orang yang celaka?

BAB III
ANCAMAN MENYIA-NYIAKAN ORANG MISKIN, ANAK-ANAK YATIM DAN ORANG LEMAH

A. Dianggap Orang Yang Mendustakan Agama
Banyak di antara kita yang masih menganggap kekayaan yang kita miliki adalah berkata usaha kita semata seolah-olah peran Allah swt dinafikkan. Akibat dari sikap ini menyebabkan orang yang memiliki kekayaan yang luar biasa menjadi sombong, angkuh, suka meremehkan orang yang ekonominya jauh di bawahnya sehingga ketika ada orang yang miskin meminta belas kasihannya setetes air atau sesuap nasi tidak diberi tetapi diberi omelan dan kata-kata yang menyakitkan. Bahkan orang yang kaya tersebut dengan enaknya tidur di kasurnya yang empuk sementara banyak anak-anak kecil di sekitaranya yang menjerit memilukan karena kelaparan. Yang lebih ironis lagi orang kaya tersebut juga seorang yang rajin sholat, suka puasa sunat, sudah beribadah haji. Tapi hatinya tak tergerak untuk mengulurkan bantuan kepada si fakir yang merintih pilu, tidak mempedulikan si yatim yang merintih kelaparan. Padahal Allah swt telah berfirman :
أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ (١) فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ (٢) وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ (٣)
“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama. Yang demikian itu adalah orang yang menghardik anak yatim. Dan orang yang tidak menyuruh memberi makan orang-orang yang miskin.” (QS. Al Ma’un : 1-3)
Alangkah menyedihkannya orang yang rajin sholat namun sholatnya tidak diterima, alangkahnya ruginya orang yang rajin berpuasa namun puasanya tidak diterima, alangkah ruginya orang yang berhaji namun hajinya tertolak. Mengapa semua ibadahnya tidak diterima atau tertolak? Jawabannya sudah jelas! Karena ia dianggap sebagai orang yang mendustakan agama artinya agama yang ia anut tidak diakui oleh Allah swt. Oleh karena itu dengarlah wahai saudara-saudaraku yang berkecukupan rizkinya! Janganlah anda menyia-nyiakan orang-orang yang miskin dan anak-anak yatim! Dari merekalah agama anda akan diakui oleh Allah, dari merekalah ibadat sholat anda akan diperhitungkan oleh Allah swt, dari merekalah semua amalan anda akan diterima oleh Allah swt.
Allah juga melarang kita berbuat sewenang-wenang kepada anak-anak yatim dan menghardik kepada orang yang meminta (orang miskin). Allah swt berfirman :
فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ (٩) وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ (١٠)
“Maka terhadap anak-anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang meminta janganlah engkau menghardiknya.” (QS. Adl-Dluha : 9-10).
Dari ayat ini hendaknya menghindari sikap menyia-nyaiakan orang-orang miskin, anak-anak yatim, orang jompo yang tidak ada orang yang menanggung kehidupan mereka. Allah sangat murka terhadap orang-orang yang menyia-nyiakan anak yatim atau orang-orang yang kaya raya namun memakan harta anak yatim dengan cara yang dlolim. Allah swt berfirman :
إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا (١٠)
"Sesungguhnya orang-orang yang makan harta-harta anak yatim dengan cara penganiayaan, maka hanyasanya yang mereka makan dalam perut mereka itu adalah api neraka dan mereka akan masuk dalam neraka Sa'ir." (an-Nisa': 10)
Bahkan nabi saw sangat senang terhadap anak-anak yatim dan orang-orang miskin. Bahkan beliau menyatakan bahwa orang yang menyayangi anak yatim di surga jaraknya dengan nabi seperti dua jari. Nabi saw bersabda :
.Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:"Pemelihara anak yatim, baik miliknya sendiri atau milik lainnya, saya - Nabi s.a.w. - dan ia adalah seperti kedua jari ini di dalam syurga." Yang merawikan Hadis ini yakni Malik bin Anas mengisyaratkan dengan menggunakan jari telunjuk serta jari tengahnya. (Riwayat Muslim)
Dari Sahl bin Sa'ad r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:"Saya dan orang yang memelihara anak yatim itu dalam syurga seperti ini." Beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengahnya dan merenggangkan antara keduanya itu." (Riwayat Bukhari)
Dari hadits ini kita dapat mengetahui betapa besar cinta Nabi saw kepada orang-orang yang mau dengan ikhlas memelihara atau menyantuni anak yatim. Dan betapa dekat jarak antara Nabi saw dengan mereka yang mau menyantuni anak yatim dengan ikhlas dan disertai dengan rasa kasih sayang. Begitu juga Rasulullah saw juga sangat mencintai orang-orang yang bersedia menyantuni fakir miskin. Sekarang anda sudah tahun bagaimana akibat orang-orang yang menyia-nyiakan orang-orang miskin, anak-anak yatim. Dan semoga anda bukan termasuk golongan orang-orang yang menyia-nyiakan orang-orang miskin, anak yatim. Amiiin!
B. Akan dimasukkan ke dalam Neraka Saqqar
Akibat yang paling mengerikan bagi orang yang menyia-nyiakan orang miskin, menghina orang miskin, tidak mau menyantuni orang miskin adalah dia akan dimasukkan ke dalam neraka saqqor. Allah swt berfirman :

مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ (٤٢)قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ (٤٣)وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ (٤٤)
“Apa yang menyebabkan kamu masuk ke dalam neraka Saqar. Mereka menjawab : Kami bukan termasuk orang-orang yang mengerjakan sholat. Dan kami tidak menjadi orang yang memberi makan orang miskin. (QS. Al Muddatsir : 42-44).
Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwasanya akibat tidak mau menyantuni orang miskin, kaum dluafa’, anak-anak yatim akan dimasukkan ke dalam neraka saqar. Neraka saqar ini merupakan neraka yang ke lima. Neraka Saqar adalah neraka yang tidak membiarkan orang yang diadzab di dalam untuk beristirahat dari siksaan Allah swt. Bahkan setelah disiksa di neraka Saqar manusia akan dikembalikan bentuknya ke bentuk semula. Neraka Saqar artinya neraka yang membakar kulit manusia. Di neraka Saqar ada 9 malaikat penjaga. Di dalam QS. At Tahrim Allah berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ (٦)
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
Ayat ini menggambarkan bagaimana kondisi neraka, neraka menurut ayat ini bahan bakarnya terdiri dari batu dan manusia dan di dalam neraka juga terdapat penjaga yang berupa malaikat yang sangat kasar dan keras. Begitu juga juga dengan kondisi neraka Saqar yang telah saya kemukakan di atas. Dengan demikian alangkah mengerikan siksaan di dalam neraka Saqar tersebut dan orang-orang yang menyia-nyiakan fakir miskin dan anak-anak yatim orang-orang tersebut dosanya akan bertambah berat. Kalau dosanya bertambah berat maka sudah pasti dia akan mendapatkan siksa oleh Allah swt dengan dimasukkan ke dalam neraka. Nabi saw bersabda :
Dari Abu Syuraih, iaitu Khuwailid bin 'Amr al-Khuza'i r.a., katanya: "Nabi s.a.w. bersabda:"Sesungguhnya saya sangat memberatkan dosa - kesalahan -orang yang menyia- nyiakan haknya dua golongan yang lemah, iaitu anak yatim dan orang perempuan."( Ini adalah Hadis hasan yang diriwayatkan oleh an-Nasa'i dengan isnad yang baik.).
Menyia-nyiakan golongan orang-orang yang lemah, yaitu : anak-anak yatim, fakir miskin, janda-janda tua, orang jompo yang hidupnya tidak ada yang menanggung adalah termasuk perbuatan tercela yang harus dihindari. Orang yang menyia-nyiakan orang-orang yang miskin, anak yatim dan orang-orang yang lemah tidak menyadari kalau rizki yang ia punyai itu hanyalah titipan semata dan menggangap kalau kekayaannya berasal dari kemampuannya bekerja dan menafikkan kalau Allahlah . Hal ini dikarenakan sikap kikir yang ada pada diri mereka dan menganggap kalau hartanya akan membuatnya kekal hidup di dunia.

C. Dimasukkan ke dalam Neraka Huthomah
Orang yang selalu menghina orang-orang miskin, orang-orang yang lemah, anak-anak yatim, orang tersebut akan dimasukkan di dalam neraka Huthomah. Orang tersebut menganggap orang miskin, anak yatim sebagai orang yang hina karena menurutnya kemuliaan orang ditentukan dengan harta yang dimilikinya dan ia menggap kalau hartanya akan membuat dirinya akan hidup kekal di dunia. Sikap ini menyebabkan dia menjadi orang yang kikir dan tidak mempunyai sikap belas kasihan dengan orang lain. Allah swt berfirman :
وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ (1) الَّذِي جَمَعَ مَالًا وَعَدَّدَهُ (2) يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُ أَخْلَدَهُ (3) كَلَّا لَيُنْبَذَنَّ فِي الْحُطَمَةِ (4) وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْحُطَمَةُ (5) نَارُ اللَّهِ الْمُوقَدَةُ (6) الَّتِي تَطَّلِعُ عَلَى الْأَفْئِدَةِ (7) إِنَّهَا عَلَيْهِمْ مُؤْصَدَةٌ (8) فِي عَمَدٍ مُمَدَّدَةٍ (9)
Kecelakaanlah Bagi Setiap Pengumpat Lagi Pencela. Yang Mengumpulkan Harta Dan Menghitung-Hitung. Dia Mengira Bahwa Hartanya Itu Dapat Mengkekalkannya, Sekali-Kali Tidak! Sesungguhnya Dia Benar-Benar Akan Dilemparkan Ke Dalam Huthamah Dan Tahukah Kamu Apa Huthamah Itu? (Yaitu) Api (Yang Disediakan) Allah Yang Dinyalakan, Yang (Membakar) Sampai Ke Hati. Sesungguhnya Api Itu Ditutup Rapat Atas Mereka, (Sedang Mereka Itu) Diikat Pada Tiang-Tiang Yang Panjang. (QS. Al Humazah : 1-9).
Ayat ini dengan gambling menjelaskan kepada kita mengenai akibat orang yang suka mengumpat, memaki dan menghina orang. Ada beberapa riwayat yang menjelaskan mengenai QS. Al Humazah tersebut :
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Utsman dan Ibnu Umar berkata: "Masih segar terdengar di telinga kami bahwa ayat ini (S.104:1,2) turun berkenaan dengan Ubay bin Khalaf, seorang tokoh Quraisy yang kaya raya, yang selalu mengejek dan menghina Rasul dengan kekayaannya." (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi hatim yang bersumber dari Utsman dan Ibnu Umar.)

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa ayat ini (S.104:1,2,3) turun berkenaan dengan al-Akhnas bin Syariq yang selalu mengejek dan mengumpat orang. Ayat ini turun berkenaan sebagai teguran terhadap perbuatan seperti itu. (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi hatim yang bersumber dari as-Suddi.)
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa ayat ini (S.104:1-3) turun berkenaan dengan Jamil bin Amir al-Jumbi seorang tokoh musyrik yang selalu mengejek dan menghina orang.
(Diriwayatkan oleh Ibnu jarir yang bersumber dari seorang suku Riqqah.)
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa Ummayah bin Khalaf selalu mencela dan menghina Rasulullah apabila berjumpa dengannya. Maka Allah menurunkan ayat ini (S.104: sampai akhir surat) sebagai ancaman siksa yang sangat dahsyat terhadap orang-orang yang mempunyai anggapan dan berbuat seperti itu.
(Diriwayatkan oleh Ibnul Mundzir yang bersumber dari Ibnu Ishaq.
Dalam sebuah hadits nabi saw bersabda :
“Penghuni neraka ialah orang yang buruk perilaku dan akhlaknya dan orang yang berjalan dengan sombong, sombong terhadap orang lain, menumpuk harta kekayaan dan bersifat kikir. Adapun penghuni surga ialah rakyat yang lemah, yang selalu dikalahkan .” (HR. Al Hakim dan Ahmad)
Berdasarkan keterangan di atas sangatlah bahwa kita dilarang menghina, menyia-nyiakan orang-orang miskin, anak-anak yatim dan orang-orang yang lemah. Bila masih ada orang yang berbuat demikian maka bersiap-siaplah untuk mencicipi panasnya Neraka Huthomah yang panasnya sampai merasuk ke hati. Bahkan menurut hadits di atas penghuni neraka adalah orang-orang yang karena kekayaannya dan suka bersikap kikir terhadap orang-orang fakir, miskin dan anak-anak yatim. Bila orang kaya menghina dan menyia-nyiakan orang miskn, anak-anak yatim bisa jadi orang kaya tersebut tidak lebih mulia di hadapan Allah swt karena yang paling mulia di hadapan Allah hanyalah orang yang bertakwa saja. Dan kekayaan yang dimiliki manusia tidak akan kekal dan harta yang dikumpulkan tidak akan dibawa mati.
D. Keimanannya Di Tolak Oleh Allah
Orang-orang kaya yang menyia-nyiakan orang miskin, tidak memperdulikan anak-anak yatim maka tidak dianggap beriman oleh Allah swt. Bila keimanannya tidak diakui oleh Allah maka tidak ada gunanya segala ibadahnya. Nabi saw bersabda :
Bukanlah orang yang benar-benar beriman seseorang yang kekenyangan sedangkan tetangga di sebelahnya kelaparan. (HR. Bukhori).
Orang yang kekenyangan, namun masih ada tetangganya yang fakir miskin, anak-anak yatim yang terlantar dan ia tidak rasa perduli dengan nasib mereka, maka ia dianggap kafir oleh Allah swt. Dan sekarang kita banyak melihat orang yang berulang kali naik haji namun pelitnya setengah mati, dia tidak pernah bershodaqoh kalau ada orang yang meminta belas kasihan darinya selalu ia bentak dengan kata-kata yang menyakitkan hati.
Apabila seseorang sudah vonis kafir oleh Allah swt maka orang tersebut sudah pasti akan dimasukkan ke dalam neraka oleh Allah swt. Allah swt berfirman :
اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آَمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (257)
Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (QS. Al Baqoroh : 257)
Ayat ini dengan jelas memberikan penjelasan kepada bahwa orang-orang kafir menjadikan syetan sebagai wali (pelindung mereka). Hal ini menyebabkan mereka lari dari kebenaran dari Allah swt sehingga mereka dimasukkan ke dalam neraka selama-lamanya. Dengan demikin bila kita menengok hadits di atas orang-orang kaya yang tidak peduli dengan nasib orang-orang miskin, anak yatim dan orang lemah mereka dianggap tidak beriman kepada Allah dan kedudukannya sama dengan orang-orang yang kafir kepada Allah swt.





















BAB IV
BERITA GEMBIRA UNTUK ORANG-ORANG MISKIN

A. Masuk Surga Terlebih Dahulu Dari Pada Orang-Orang Kaya
Adalah berita gembira bagi orang-orang miskin adalah mereka akan dimasukkan lebih dahulu di surga sebelum orang-orang kaya. Hal ini dikarena orang kaya akan diteliti dari mana harta mereka di dapat, bagaimana cara mendapatkannya digunakan untuk apa. Sedangkan orang-orang miskin tidak akan ditanyakan hal-hal tersebut di atas, bahkan jarak waktu masuknya orang-orang miskin ke dalam surga lebih dahulu 500 tahun bila dibanding dengan orang-orang yang kaya. Hal ini digambarkan dalam hadits sebagai berikut :
Dari Ibnu Umar beliau berkata : “Wahai orang-orang yang fakir! Apakah kalian mau aku beri kabar gembira? Sesungguhnya orang-orang mukmin yang fakir masuk surga sebalum orang-orang kaya dengan setengah harinya yaitu 500 tahun.” (HR. Ibnu Majah)
“Dari Nu’aim dari Abu Sa’id supaya ia memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang fakir dengan keberuntungan pada hari kiamat sebelum orang-orang kaya dengan jarak waktu 500 tahun. Orang-orang miskin mendapatkan kenikmatan di surga terlebih dahulu sedangkan orang-orang kaya masih dihitung.”
Hadits tersebut di atas dengan jelas bahwa orang-orang miskin tidak perlu bersedih dengan kemiskinannya, karena mereka akan terlebih dahulu masuk surga bila dibandingkan dengan orang yang kaya. Dan bukan sembarang orang mukmin yang fakir akan masuk surga lebih dahulu daripada orang kafir, melainkan orang miskin yang ridlo dengan ketentuan Allah, sabar dengan kemiskinan yang menimpanya. Orang-orang miskin yang sabar mereka menyadari kalau harta itu sebagai ujian, kemiskin itu juga sebagai ujian atas diri mereka. Mereka menyadari kalau dia sabar dengan ujian Allah surgalah jaminanan untuk mereka dan mereka juga menyadari bahwa harta itu hanyalah titipan semata dan tidak akan menjadi milik mereka untuk selamanya, sehingga hati mereka tidak diperbudak oleh harta dunia yang hanya bersifat sementara saja. Allah menjelaskan bahwa harta, kekurangan makan, ketakutan merupakan ujian dari Allah swt. Allah berfirman :

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (155)
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”
Orang-orang yang bersabar ketika mendapatkan ujian dari Allah swt berupa kesempitan rizki akan mendapatkan kabar gembira yang berupa rahmat Allah, kasih sayang Allah yang dilimpahkan kepada mereka. Jika Allah sudah mencintai mereka maka Allah tidak akan mencampakan para kekasihnya ke dalam neraka, melainkan mereka akan dimasukkan ke dalam surga yang penuh kenikmatan. Oleh karena itu tidak ada alasan yang benar jika anda masih bersedih karena anda sebagai orang miskin. Bukankah surga itu lebih indah daripada kenikmatan dunia yang bersifat semu dan sementara ini?
Musibah bagi orang-orang yang beriman bukanlah merupakan suatu siksaan yang mebuat mereka hidup merana, namun sebenarnya musibah bagi orang-orang yang beriman merupakan sarana untuk menghapuskan dosa mereka. Musibah dalam hal ini termasuk sempitnya rizki, kesulitan memenuhi kebutuhan hidup. Rasulullah saw bersabda :
Tiada suatu kepayahan pun yang menimpa seorang muslim, tiada suatu kelelahan pun tiada suatu kesusahan pun, tiada suatu kesedihan pun, tiada suatu penyakit pun, dan tiada suatu derita pun disebabkan tertusuk duri (umpamanya), kecuali Allah menghapuskan sebagian dari dosa-dosanya karena hal tersebut. (HR. Bukhori dan Muslim)
Orang-orang fakir yang beriman yang mendapatkan kesulitan dalam mendapatkan rizki dan kesulitan tersebut dapat menghapuskan dosanya, maka tidak heran jika orang fakir yang beriman masuk surga terlebih dahulu daripada orang-orang kaya yang hidupnya bergelimang harta benda. Karena orang-orang kaya tidak pernah mengalami kesulitan yang berarti dalam hal mencari rizki sehingga tidak penghapus dosa-dosa mereka seperti yang dimilik oleh orang-orang yang miskin tersebut. Orang-orang kaya tidak pernah merasakan kelaparan, anak-anak mereka tidak merintih dengan pilu, tidak pernah menyebut Allah swt karena hidup mereka jauh dari kesulitan. Berbeda dengan orang-orang yang fakir hidupnya penuh kepiluan, anak-anak mereka merintih dengan pilu, kalimat Allah selalu menyertai rintihan mereka di sepanjang hidup mereka. Maka bergembiralah orang-orang miskin, musibah yang ada pada kalian adalah penolong kalian besok di akhirat!
Meskipun demikian bukan berarti sebagai orang yang miskin diperbolehkan hanya meunggu nasib atau hanya menyerah pada nasib sehingga tidak mau berusaha untuk mendapatkan rizki Allah dengan cara bekerja keras. Dan orang yang bekerja keras sampai kelelahan maka akan mendapatkan ampunan Allah swt. Nabi saw bersabda :
من أمسى كالامن عمل يديه أمسى مغفوراله (عن ابن عباس)
Barangsiapa bersore hari dalam keadaan lelah karena bekerja, niscaya memasuki sore harinya itu dalam keadaan diampuni (Dari Ibnu Abas).
Berangkat dari hadits ini saya hendaknya anda orang-orang yang miskin mempunyai semangat yang kuat untuk bekerja keras dalam rangka menggapai karunia Allah swt. Orang-orang yang miskin tentunya untuk mendapatkan sesuap nasi yang harus bekerja sampai tenaganya habis terkuras dan kelelahan. Berbeda dengan orang yang kaya untuk mendapatkan uang yang melimpah tidak butuh tenaga yang membuatnya lelah sebagaimana orang-orang yang miskin. Orang miskin masuk ke surga karena kesabarannya dan kesungguhannya dalam menghadapi kesulitan hidupnya dan mencari karunia Allah swt. Lalu apa sebenarnya syarat agar pekerjaannya tersebut dapat berpahala sehingga bisa menghapuskan dosa? Agar pekerjaannya berpahala dan sebagai penghapus dosa adalah pekerjaan tersebut disertai dengan keikhlasan dan mencari ridlo Allah swt semata, karena setiap amal baik kita akan ada nilainya di hadapan Allah swt jika disertai niat yang ikhlas demi mencari keridloan Allah swt. Allah swt memerintahkan kepada kita agar di dalam beramal sholeh harus disertai keihlasan serta bersih dari hal-hal yang lain. Allah tidak akan menerima setiap perbuatan tidak menerima amal sholeh yang tidak disertai dengan niat yang ikhlas demi mencari ridlo Allah swt. Allah swt menyatakan hal tersebut di dalam firman-Nya :
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ (البينة :٥)
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus" (QS. Al Bayyinah : 05).
Wahai saudara-saudaraku kaum dlua’afa bekerjalah dengan niat yang ikhlas karena Allah semata! Janganlah anda menggerutu dan mencaci maki Allah ketika anda bekerja keras, namun hasilnya sangat mengecewakan. Karena apabila anda bekerja dengan ikhlas Allah akan menghapus dosa anda dengan keringat anda rasa lelah anda ketika anda bekerja.

B. Sebagian Besar Penduduk Surga Adalah Orang-Orang Yang Miskin
Salah satu kabar gembira bagi orang-orang yang miskin adalah mereka menjadi penghuni surga dan penghuni surga sebagian besar adalah orang-orang yang miskin. Hal ini dapat kita lihat dalam hadits Nabi saw yang berbunyi :
“Dari Ibnu Abas : Ditampakkan kepadaku surga maka aku melihat sebagian besar penduduknya adalah orang-orang yang miskin dan diperlihatkan kepadaku neraka maka aku melihat sebagian besar penduduknya adalah para wanita.” (HR. Muslim).
Sedang menurut hadits lain yang serupa dengan hadits di atas dikatakan :
“Aku menjenguk ke surga, aku dapati kebanyakan penghuninya orang-orang fakir-miskin dan aku menjenguk ke neraka, aku dapati kebanyakan penghuninya kaum wanita.”(HR.Ahmad)
Kedua hadits di atas dengan jelas memberi kabar kepada kita bahawa sebagian besar penduduk surga adalah orang-orang yang miskin yang dunia mungkin termasuk orang-orang yang tidak beruntung. Bahkan dalam hadits lain nabi saw bersabda :

Apakah semua orang miskin masuk surga? Jawabannya jelas tidak, karena hanya orang-orang miskin yang bersabar menerima ujian Allah dengan kemiskinannya, orang-orang miskin yang bekerja keras dan pekerjaannya tersebut diniati karena Allah sebagaimana yang telah saya sampaikan pada point terdahulu. Dan para nabi termasuk nabi kita Nabi Muhammad saw juga bukan termasuk orang-orang yang kaya dan para nabi tersebut dijamin oleh Allah swt pasti masuk surga. Berdasarkan hal tersebut apakah anda masih bersedih karena anda menjadi orang yang miskin? Anda boleh saja bersedih, gelisah sebagai orang miskin dan hal itu adalah hal yang sangat manusiawi dan tidak salah, namun tidak perlu berlarut-larut! Surga Allah swt bagi orang-orang miskin yang bersabar dan tetap berhusnudlon kepada Allah swt karena Allah tergantung prasangka hamba-Nya kepada-Nya. Nabi bersebda dalam hadits Qudsi :
Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Nabi saw. bersabda : "Allah Ta'ala berfirman : "Aku menurut sangkaan hambaKu kepadaKu, dan Aku bersamanya apabila ia ingat kepadaKu. Jika ia ingat kepadaKu dalam dirinya maka Aku mengingatnya dalam diriKu. Jika ia ingat kepadaKu dalam kelompok orang-orang yang lebih baik dari kelompok mereka. Jika ia mendekat kepadaKu sejengkal maka Aku mendekat kepadanya sehasta. jika ia mendekat kepadaKu sehasta maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepadaKu dengan berjalan maka Aku datang kepadanya dengan berlari-lari kecil". (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).
Allah tergantung dari prasangka anda, artinya jika anda dalam kondisi miskin dan serba kekurangan tetapi anda tetap bersabar dan berperasangka baik kepada Allah swt maka Allah akan memberikan kebaikan kepada anda. Sebaliknya jika anda berperasangka buruk kepada Allah swt, maka Allah akan menimpakan keburukan kepada anda. Untuk menghilangkan kesedihan anda karena anda sebagai orang yang miskin maka mendekatlah pada Allah sambil meinta pertolongan Allah swt! Pasti Allah akan mendekat kepada anda dan memberikan pertolongan kepada anda.
Mengapa sebagian besar penduduk surga itu orang-orang yang miskin? Karena itu merupakan bukti kasih sayang Allah kepada hamba-hamba yang di dunia menderita namun dia tetap bersabar dan bersyukur atas nikmat yang Allah berikan kepada mereka, dan juga merupakan bentuk keadilan Allah yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang miskin namun tetap bersabar dan bersyukur kepada Allah swt. Dan sebagian besar orang Islam itu dalam keadaan miskin dan sebagian besar orang kafir dalam kondisi serba berlebih secara materi. Jadi benarlah sabda Nabi yang menyatakan bahwa sebagian besar penduduk surga itu adalah orang-orang yang miskin. Bukan berarti surga hanya untuk orang-orang miskin saja dan tidak ada orang kaya yang masuk surga. Orang miskin yang tidak taat pada Allah, orang miskin yang sombong tidak akan masuk surga. Sedangkan orang kaya yang taat kepada Allah swt pasti akan masuk surga meskipun jumlahnya tidak sebanyak orang-orang yang miskin.
Ini merupakan kabar gembira nabi saw yang haru kita sambut dengan gembira sambil meningkatkan rasa syukur kita kepada Allah swt dan bersabar dengan kemiskinan yang menimpa kita. Ingat rintihan orang-orang miskin yang ikhlas memohon kepada Allah pasti didengar oleh Allah swt!


C. Kemiskinan Dapat Menghapus Dosa
Salah satu berita gembira bagi orang-orang yang miskin adalah bahwa kemiskinan mereka dapat menghapus sebagian dosa-dosa mereka yang dosa-dosa tersebut tidak dapat dihapus dengan ibadah kita yang berupa sholat, zakat, puasa dan ibadah haji. Hal ini sebagaimana Nabi saw sabdakan :
Dari Abu Hurairah ra : “Sesungguhnya sebagian dari dosa-dosa itu adalah dosa-dosa yang tidak dapat dihapus dengan sholat, puasa, haji dan umrah. Dosa-dosa tersebut dihapus dengan kesulitan dalam mencari nafkah”. (Abu Nu’aim).
Mengapa sholat, puasa, haji, umroh tidak bisa menghapus dosa-dosa yang ada? Jawabannya barangkali semua ibadah mereka tersebut di atas hanya mencari pujian orang-orang yang ada di sekitarnya, artinya ibadah mereka tidak ikhlas. Sedang mengapa kesulitan dalam memenuhi rizki dapat menghapuskan dosa-dosa yang ada pada mereka? Karena mereka bersabar dalam menghadapi kesulitan diri mereka untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dan mereka apabila mereka meminta pertolongan kepada dengan cara beribadah kepada Allah swt dilandasi dengan niat yang ikhlas dan ibadah mereka tidak karena ingin dipuji. Apalagi jika cara mereka mengatasi kesulitan hidupnya dengan cara yang halal dan diridloi Allah tentunya akan menghapus dosa-dosa mereka. Juga doa-doa yang senantiyasa mereka panjatkan ketika mereka mulai bekerja, sedang bekerja ataupun ketika mengakhiri mereka bekerja juga dihitung sebagai ibada dan doa merupakan inti dari ibadah. Dan ibadah yang dilandasi dengan keikhlasan akan mendatangkan ridlo Allah swt dan jika ridlo Allah telah ada maka Allah pastikan akan menyayangi orang-orang yang beribadah kepada-Nya. Dan jika Allah menyayangi mereka maka akan dihapus dosa-dosa mereka dan apabila dosa-dosa mereka telah dihapuskan oleh Allah swt sudah pasti mereka tidak akan dimasukkan ke dalam neraka.
Dan apabila kita mengandalkan ibadah kita menghapus dosa-dosa kita belum tentu ibadah-ibadah kita tersebut dapat menghapus dosa-dosa kita, karena ibadah-ibadah kita tersebut tidak atau kurang sempurna dan tidak dilandasi niat yang ikhlas. Karena ibadah yang sempurna memang tidaklah mudah tidak seperti membalikkan telapak tangan. Kita melakukan sholat dan barangkali sholat kita tidak dapat menghapus dosa-dosa kita karena sholat kita tidak khusyuk, kurang memenuhi kaifiyahnya sholat, sehingga bila sholat kita tidak khusyuk pahala sholat kita tidak sempurna. Dan pahala sholat tidak seimbang dengan dosa-dosa kita yang banyak sehingga sholat kita tidak akan mampu menghapus dosa-dosa kita. Sedangkan bila kita mengandalkan puasa kita untuk menghapus dosa-dosa kita tidak mungkin bisa. Karena puasa kita tidak memenuhi apa yang ditentukan oleh syariah Nabi saw pernah menyampaikan bahwa banyak orang yang berpuasa tetapi hanya mendapatkan lapar dan haus saja. Banyak puasa kita yang tidak mendapatkan pahala karena kita masih marah ketika sedang puasa, kita masih berbohong pada waktu puasa, kita masih melihat barang-barang maksiat pada waktu puasa. Kalau puasa kita tidak berpahala bagaimana mungkin puasa kita akan menghapus dosa-dosa kita?
Barangkali kita beranggapan bahwa haji kita dapat menghapuskan dosa-dosa kita? Betul kalau ibadah haji kita laksanakan dengan betul. Tetapi kalau ibadah haji kita tidak memenuhi ketentuan syariat, harta yang kita gunakan untuk ibadah haji bersal dari harta yang haram atau menzholimi saudara-saudara kita bagaimana mungkin ibadah haji kita akan diterima oleh Allah swt? Dalam hadits arbain nawawiyah diceritakan bahwa ada seorang lelaki yang memohon pada Tuhan-Nya dengan berkata “Tuhanku........Tuhanku! Kemudian dalam kitab tersebut dinyatakan bahwa Tuhannya menjawab : “Bagaimana Aku akan mengabulkan permintaanmu sementara makanan yang engkau makan berasal dari makanan yang haram?” Dari cerita tersebut dapat kita ketahui kalau ibadah haji kita berasal dari harta yang haram maka haji kita tidak diterima oleh Allah swt. Kalau ibadah Haji kita tidak diterima oleh Allah swt bagaimana mungkin ia akan dapat menghapus dosa-dosa kita? Hanya kesulitan dalam hidup kita yang kita terima dengan ikhlaslah yang dapat menghapuskan dosa-dosa kita. Hanya kemiskinan yang kita terima penuh dengan ridlolah yang dapat menghapus dosa-dosa kita. Maka tetaplah bersyukur dengan kesulitan hidup yang kita hadapi dan tetaplah bersabar menghadapi kesulitan hidup yang kita alami sambil mencari jalan keluarnya. Semoga kesuksesan bersama kita semua! Amin!

D. Yang Paling Lama Bergembira Di Akhirat
Salah satu dari kabar gembira kepada orang-orang yang fakir yang disampaikan oleh Rasulullah saw adalah orang-orang fakir miskin akan mendapatkan kegembiraan yang paling lama bila dibandingkan dengan orang-orang yang kaya bahkan orang-orang yang kaya akan lebih lama merasakan kepedihan di akhirat. Nabi Muhammad saw bersabda :
Dari Ibnu Asakir : Sesungguhnya kamu sekalian yang paling lama bersedih hati di dunia adalah yang paling lama bahagia di akhirat. Dan sesungguhnya yang paling banyak kenyang dari kamu sekalian di dunia paling banyak kelaparan di akhirat.” (Al Hadits).
Mengapa orang yang paling lama bersedih di dunia mereka itu orang yang paling bahagia di akhirat? Karena mereka yang selalu dirundung kesedihan di dalam kehidupannya di dunia mereka akan selalu berusaha untuk menghilangkan atau paling tidak mengurangi kesedihahan yang ada pada mereka. Apabila mereka menghilangkan kesedihan dengan mendekatkan diri kepada Allah baik dengan doa atau berdzikir (ingat kepada Allah swt) maka Allah akan menambah kekuatan pada diri mereka untuk menghadapi kesedihan dan kesulitan hidup mereka. Dan pahala dari doa dan dzikir yang mereka lakukan dengan keikhlasan pasti akan diberikan oleh Allah swt di akhirat yang akan membawa kegembiraan bagi mereka di akhirat. Dan mereka menyadari bahwa kesedihan yang mereka alami tidak akan kekal, karena tidak yang kekal di dalam kehidupan di dunia ini. Tidak ada kesedihan dan kegembiraan yang abadi dalam kehidupan ini, tidak ada orang yang terus-menerus menangis sepanjang hidupnya dan tidak ada orang yang tertawa terus-menerus di dunia ini. Hal ini membuat orang-orang yang hidupnya senantiyasa dirundung kesedihan karena kemiskinan yang mereka alami tidak berlarut-larut dalam kesedihan. Dan di akherat kelak mereka akan merasakan kelezatan sejati, kebahagian sejati.
Sebaliknya orang-orang yang senantiyasa dalam kekenyangan biasanya dia lupa bahwa kehidupan di dunia hanya bersifat sementara, sehingga mereka beranggapan bahwa dunia ini kekal adanya. Mereka beranggapa akan senantiyasa dalam kebagiaan dengan melimpahnya harta yang mereka miliki, sehingga mereka akan melupakan ibadah kepada pencipta-Nya. Dan apabila mereka tidak beribadah kepada Allah swt, maka sudah pasti nerakalah tempat mereka. Kalau mereka dimasukkan ke dalam neraka sudah pasti mereka akan merasakan penderitaan yang luar biasa dikarenakan kelaparan yang mereka alami. Harta yang mereka miliki tidak akan membuat mereka kenyang kelak di akherat, palagi kalau harta mereka tidak mereka shodaqohkan. Mereka hanya akan diberikan makanan yang tidak mengenyangkan. Allah swt berfirman :
تُسْقَى مِنْ عَيْنٍ آَنِيَةٍ () لَيْسَ لَهُمْ طَعَامٌ إِلَّا مِنْ ضَرِيعٍ () لَا يُسْمِنُ وَلَا يُغْنِي مِنْ جُوعٍ
(الغاشية : ٥-٧)
”Diberi minum (dengan air) dari sumber yang sangat panas. Mereka tiada memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri,Yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar.” (Al Ghosyihah : 5-7)
Sungguh mengerikan dampak orang-orang yang diberikan materi yang berlebih namun hartanya tersebut membuat mereka lalai beribadah kepada Allah swt dan bahkan tidak percaya kepada Allah swt (kafir). Bahkan mereka berani menantang Allah sebagaimana dapat kita lihat pada tulisan orang-orang yang sangat benci dengan agama Allah swt yakni agama Islam. Sehingga benarlah apa yang dinyatakan dalam hadits di atas bahwa orang yang paling banyak merasakan kenyang di dunia, maka kelak dia akan menjadi orang yang paling banyak merasakan kelaparan di akherat. Oleh karena itu bagi saudara-saudaraku yang mempunyai materi yang berlimpah janganlah kekayaan anda semua menjadikan anda semua orang-orang yang lalai beribadah kepada Allah swt supaya anda kelak tidak merasakan kelaparan di akherat! Jika kelaparan di dunia kita masih bisa mencari bantuan kepada tetangga, saudara ataupaun kepada siapa saja yang ada di sekitar anda semua. Namun kalau kelparan di akherat tak ada saudara, teman, tetangga yang akan membantu anda untuk menghilangkan kelaparan yang ada pada diri anda. Dan ingat harta anda tidak akan anda bawa ke liang kubur. Hanya amal dan pahala ibadah anda yang menyelamatkan anda dari kelaparan anda di akhirat. Semoga Allah memberikan kekuatan orang-orang miskin dalam menghadapi kesulitan hidup dan memberikan petunjuk orang-orang yang kaya supaya tidak melalaikan ibadah mereka kepada Allah swt. Amiin!

E. Orang-Orang Miskin Mempunyai Tempat Istimewa Di Sisi Allah Swt

Salah satu keistimewaan yang dimiliki orang-orang yang miskin adalah mereka dapat menyebabkan orang-orang yang ada di sekitarnya bisa masuk ke dalam surga, yaitu bagi mereka yang menyintai orang-orang yang miskin. Hal ini berdasarkan pada hadits Nabi saw :
“Setiap sesuatu ada kuncinya dan kunci surga adalah mencintai orang-orang fakir dan miskin, karena bersabar kepada mereka. Mereka itu adalah teman-teman duduk Allah pada hari kiamat. (Al Hadits).
Berdasarkan hadits kita dapat mengetahui betapa mulianya orang-orang yang miskin di hadapan Allah swt, sehingga orang-orang yang mencintai mereka akan dimasukkan ke dalam surga dan orang-orang yang bersabar ketika orang-orang miskin bersama mereka dan meminta pertolongan kepada maka mereka akan menjadi teman-teman duduk Allah swt besok pada hari kiamat. Dan jika mereka telah menjadi teman-teman duduk Allah swt pada hari kiamat maka mereka tidak akan merasakan peristiwa-peristiwa yang mengerikan pada hari kiamat. Oleh karena itu sudah sewajarnya bagi orang-orang miskin tidak merasa dihinakan oleh Allah swt dan tidak perlu merasa rendah diri dengan kemiskinan mereka.
Orang-orang kaya belum tentu dapat menyebabkan orang-orang yang ada di sekitarnya bisa masuk surga. Jangankan menyebabkan orang-orang yang ada di sekitarnya bisa masuk surga sedangkan diri mereka sendiri belum tentu masuk ke dalam surga, apalagi orang-orang kaya yang tidak mau memperdulikan orang-orang yang miskin sudah pasti harapan masuk ke dalam surga akan dapat terwujud.
Keistimewaan yang Allah berikan kepada orang-orang yang miskin adalah menyebabkan orang-orang yang mencintai mereka menjadi berakhlak mulia sebagaimana akhlaknya para nabi dan rasul. Hal dapat kita lihat pada sabda Nabi saw :
“Mencintai orang-orang yang miskin merupakan akhlak para nabi sedangkan membenci orang-orang miskin merupakan akhlak para Fir’aun.” (Al Hadits).
Akhlak para nabi adalah akhlak yang mulia yaitu mencintai sesama dan mempunyai rasa welas asih kepada sesama. Kita tidak pernah mendengar cerita seorang Nabi yang bertindak sewenang-wenang kepada sesama, tidak ada seorang nabi yang suka merendahkan orang-orang yang miskin sebaliknya kita sering mendengarkan cerita mengenai penguasa yang bersikap zholim kepada sesama, tidak mempunyai belas kasihan kepada orang-orang yang miskin dan suka merendahkan orang –orang yang miskin. Kata Fir’aun di sini sebagai simbol penguasa, yang biasanya para penguasa biasanya suka merendahkan orang-orang yang miskin. Tokoh Fir’aun merupakan tokoh yang mempunyai sikap sombong tidak hanya kepada orang-orang miskin saja, tetapi Fir’aun bersikap sombong kepada semua manusia dan dia mendakwakkan dirinya sebagai Tuhan semesta alam.
Begitu juga bila kita perhatikan pada zaman sekarang di era modern ini dapat kita saksikan banyaknya penguasa yang menzholimi orang-orang miskin, bagaimana kita melihat penguasa lebih berpihak kepada para pengusaha yang mereka itu mempunyai banyak uang sehingga terjadilah penggusuran besar-besaran di kota-kota besar terhadap orang-orang miskin yang tidak mempunyai kekuatan untuk mempertahankan diri. Sikap demikian itu sungguh sangat dimurkai oleh Allah swt. Oleh karena itu hendaknya setiap orang yang mempunyai kekuasaan (para penguasa) hendaknya mencontoh kepemimpinan Umar Ibnu Khothob, Umar Ibnu Abdu Al ‘Aziz yang lebih memperhatikan kepada nasib orang-orang yang lemah dan miskin dari rakyat mereka. Begitu juga dengan Rasulullah saw, beliau adalah pemimpin yang sangat mencintai orang-orang yang miskin, anak-anak yatim yang lemah. Kepemimpinan mereka lebih mengedepankan kesejahteraan rakyat mereka daripada kesejahteraan diri sendiri.
Sikap perhatian Umar terhadap rakyatnya yang miskin dapat dilihat dalam kisah ketika seorang rakyatnya yang miskin akan digusur rumahnya rumahnya oleh Gubernur Mesir Amr Ibnu Ash. Suatu hari Gubernur Mesir Amr Ibnu Ash hendak membangun sebuah tempat yang istimewa di wilayahnya. Tetapi tempat tersebut berdekatan dengan pemukiman orang Yahudi yang miskin, karena merasa dirinya dizholimi oleh Amr Ibnu Ash maka orang Yahudi tersebut mengadukan hal tersebut kepada Umar ibnu Khothob. Setelah mendengar pengaduan Yahudi tersebut maka Umar memberi nasehat kepada Amr Ibnu Ash dengan menggunakan tulang yang digaris dengan pedang. Setelah melihat tulang yang digaris dengan pedang, maka Amr ibnu Ash membatalkan rencananya menggusur pemukiman milik orang Yahudi yang miskin tersebut. Dengan kisah tersebut dapat kita lihat bahwa betapa besar perhatian Umar Ibnu Khotob terhadap rakyatnya yang miskin rakyatnya tersebut tidak beragama Islam. Oleh karena itu para penguasa bisa meneladani sikap Umar Ibnu Khotob terhadap rakyatnya yang miskin, sehingga terciptalah kesejahteraan sejati sehingga mendatangkan karunia Allah swt!

F. Menyembunyikan Kemiskinan Termasuk Ibadah
Suatu hal yang sangat menggembirakan bagi anda orang-orang yang fakir adalah jika anda mampu menyembunyikan kemiskinan anda maka sikap tersebut dianggap sebagai ibadah yang pasti akan mendapatkan imbalan yang besar dari Allah swt, artinya ketika kondisi anda dalam kondisi miskin anda tidak mengeluh kepada siapapun dan tidak melakukan suatu hal yang hina (meminta-minta) maka sudah pasti Allah swt akan memberikan kemuliaan kepada dirinya. Sikap demikian berarti ia dapat menjaga amah Allah swt karena sesungguhnya kefakiran tersebut merupakan amanat Allah swt yang memang harus dijaga. Orang-orang menyia-nyiakan amanah dikatogorikan sebagai orang yang munafik. Nabi saw bersabda :
“Tanda-tanda orang munafik ada 3 : Bila berkata selalu bedusta.Bila berjanji selalu mengingkari. Dan bila dipercaya berkhianat. (Al Hadits).
Allah swt juga memerintahkan agar kita menyampaikan amanat kepada mereka yang berhak menerimanya hal ini dapat kita baca dalam firman Allah swt :
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا (النسـاء :٥٨)
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat.” (QS. An Nisa’ : 58)
Allah swt memerintahkan kepada kita agar mampu menjaga amanah yang diberikan kepada kita, termasuk kondisi kita sebagai orang yang fakir. Rasulullah saw bersabda :
“Kefakiran merupakan suatu amanah, barang siapa yang menyembunyikannya maka ia merupakan suatu ibadah dan barang siapa yang menampakkannya maka sesungguhnya ia telah membelenggu saudara-saudaranya kaum muslim.” (Al Hadits).
Kemiskinan yang ditampakkan dengan sengaja supaya orang lain berbelas kasih kepadanya merupakan sikap hina dan tercela yang harus dijauhi oleh orang-orang yang beriman. Karena bila orang yang fakir menampakkan kemiskinan mereka supaya orang-orang di sekitar mereka mempunyai rasa belas kasih kepada mereka hanya akan menambah diri mereka hina di hadapan manusia dan di hadapan Allah swt. Nabi menyatakan bahwa tangan di atas lebih mulia dari pada tangan di bawah, artinya jadi orang yang suka memberi lebih mulia dari pada orang-orang yang suka meminta- minta. Allah swt akan menyiksa orang-orang yang suka meminta-minta dengan membangkitkan diri mereka pada hari kiamat dengan kondisi muka mereka tidak mempunyai daging, alangkah mengerikan siksaan orang-orang yang suka meminta-minta tanpa mau bekerja keras untuk memenuhi hidupnya, bukankah kerja keras juga merupakan salah satu bentuk ibadah apabila dilakukan dengan ikhlas dan mencari ridlo Allah swt.
Yang terpenting bagi anda wahai saudara-saudaraku fakir miskin! Anda harus mengatasi kesulitan kehidupan anda dengan senantiyasa berikhtiyar menggapai karunia Allah swt yang berupa rizki Allah swt yang akan menopang kehidupan anda. Allah swt memberikan motivasi kepada kita agar kita menggapai karunianya :
فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ
كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (الجمعة :١٠)
Apabila telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (QS. Al Jumu’ah : 10).
Allah swt dengan ayat ini memberikan perintah kepada kita agar apabila kita telah melakukan ibadah sholat kita diperintahkan segera bertebaran di muka bumi untuk mencari karunia Allah swt. Karunia Allah tidak akan datang hanya karena anda meratapi kemiskinan anda atau menampakkan kemiskinan anda kepada orang-orang di sekitar anda agar anda dikasihani, tetapi karunia Allah akan menghampiri anda jika anda mau menggapainya. Oleh karena itu anda tidak perlu meratapi kemiskinan anda, anda tidak perlu mencari belas kasihan orang-orang kaya di sekitar anda karena hal tersebut tidak akan bermanfaat bagi anda dan tidak akan menyelesaikan permasalahan ekonomi anda. Bahkan jika anda selalu meminta belas kasihan orang-orang di sekitar anda berarti anda telah melakukan suatu dosa karena anda telah membuat tidak senang orang lain, membuat beban pada orang lain. Bersabarlah dengan kemiskinan yang menemani anda sambil memohon karunia Allah dengan tetap bekerja keras menggapai karunia Allah swt! Ingat kefakiran merupakan amanat Allah yang apabila bersabar dengan kefakiran anda maka hal tersebut merupakan ibadah yang sangat tinggi nilainya di hadapan Allah swt.
Allah swt telah memberikan anda amanat berupa akal dan tenaga untuk mengatasi kesulitan hidup yang memang mau tidak mau pasti setiap orang akan mengalaminya. Walaupun kemiskinan itu merupakan suatu amanat bukan berarti anda tidak boleh terlepas dari kemiskinan atau bukan berarti anda tidak boleh terlepas dari kesulitan hidup, tetapi kemiskinan dan kesulitan yang anda alami hendaknya dijadikan sebagai sarana untuk memotivasi diri agar lebih dekat dengan Allah swt dengan bersimpuh di hadapan Allah swt untuk senantiyasa beribadah kepada Allah swt. Apabila anda menyia-nyiakan karunia Allah yang berupa kemampuan diri untuk melepaskan diri dari kesulitan hidup berarti anda telah menyia-nyiakan amanat Allah swt yang berupa kemampuan diri untuk melepaskan diri dari kesulitan hidup, ini artinya anda telah berdosa kepada Allah swt.
Walaupun dalam hadits tersebut di atas orang-orang miskin tidak boleh menampakkan kemiskinan mereka, tetapi bukan berarti mereka anda harus malu kalau disebut sebagai orang yang miskin. Tetapi maksudnya orang-orang yang miskin tidak perlu memperlihatkan kemiskinannya supaya ada orang-orang yang kaya mau memberinya uang yang banyak tanpa mereka bersusah payah mencari kerja, memeras keringat dan banting tenaga demi memenuhi kebutuhan hidup. Tetapi bukan berarti Islam melarang orang-orang miskin untuk mendapatkan bantuan orang-orang yang kaya yang berada di sekitar anda, pemberian tersebut merupakan karunia Allah swt kepada anda dan anda tidak perlu malu menerimanya.
Senjata yang paling ampuh bagi orang-orang yang fakir adalah doa dan kesabaran, doa bisa mengubah suatu hal yang mustahil menurut akal tidak mungkin terjadi bisa terjadi. Banyak orang yang sukses ekonominya dengan kekuatan doa di samping usaha lahir mereka, banyak orang yang pekerjaannya kelihatan remeh tetapi hasilnya luar biasa karena doa juga. Kemampuan anda berdoa kepada Allah swt juga merupakan amanat yang harus anda amalkan dan jangan anda sia-siakann!

G. Orang-Orang Miskin Sebagai Penyebab Datangnya Pertolongan Dan Rizki

Suatu hal yang istimewa bagi orang-orang yang miskin adalah mereka sebagai penyebab datangnya rizki dan pertolongan Allah swt bagi orang-orang yang mau peduli dengan kondisi mereka dengan cara memberikan pertolongan kepada mereka dengan memberikan santunan (shodaqoh) kepada mereka. Hal ini dinyatakan oleh Nabi Muhammad saw :
Dari Abuddarda', iaitu 'Uwaimir r.a., katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Carilah untukmu orang-orang yang lemah, sebab hanyasanya engkau semua diberi rezeki serta pertolongan dengan sebab orang-orang yang lemah di kalangan engkau semua itu." (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan isnad yang baik.)
Dari Mus'ab bin Sa'ad bin Abu Waqqash radhfallahu 'anhuma, katanya: "Sa'ad merasa bahawasanya ia memiliki kelebihan keutamaan dari orang-orang yang sebawahnya, kemudian Nabi s.a.w. bersabda:"Bukankah engkau semua tidak akan memperolehi pertolongan atau rezeki melainkan dengan sebab usaha dari orang-orang yang lemah dari kalanganmu semua itu."
Diriwayatkan oleh Imam Bukhari sebagai Hadis mursal, sebab sebenarnya Mus'ab bin Sa'ad itu adalah seorang Tabi'i. Hadis ini juga diriwayatkan oleh al-Hafizh Abu Bakar al-Barqani dalam kitab shahihnya sebagai Hadis muttashil dari Mus'ab dari ayahnya r.a.
Orang-orang yang miskin, fakir dan orang yang lemah dengan doa mereka kepada orang-orang yang memberikan bantuan kepada mereka pasti didengar oleh Allah swt. Kenapa demikian? Karena orang-orang yang miskin, fakir dan lemah biasanya dianggap remeh oleh masyarakat, sehingga kadang-kadang mereka sering dicampakkan oleh masyarakat yang ada di sekitar mereka. Dengan kondisi seperti tersebut di atas hati orang-orang miskin akan lebih dekat kepada Allah dan lebih bersungguh-sungguh beribadah dan memohon kepada Allah. Karena kesungguhan doa dan ibadah mereka kepada Allah dan disertai dengan keikhlasan yang tinggi sudah pasti hal tersebut menyebabkan doa orang-orang fakir, miskin dan orang-orang yang lemah didengar oleh Allah swt. Kalau orang-orang fakir, miskin dan orang-orang yang lemah mendoakan kebaikan kepada orang-orang yang membantu mereka dengan ikhlas pasti didengar oleh Allah swt.
Oleh karena janganlah saudara-saudaraku fakir miskin berkecil hati dalam menghadapi kehidupan ini. Kalian mempunyai keistimewaan yang tidak dimiliki oleh orang-orang yang kaya. Karena dengan doa kalian kepada Allah swt pertolongan dan rizki Allah akan senantiyasa diberikan dan dicurahkan kepada siapapun yang memuliakan dan membantu kehidupan anda. Memang tidak mudah untuk menghilangkan rasa kecil hati, minder ketika kondisi anda dalam keadan miskin, tidak punya apa-apa dan tidak punyak kedudukan di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Tetapi semua harus diupayakan untuk menghilangkan perasaan tersebut dan mengganti dengan perasaan berbangga sebagai orang yang miskin karena dengan kemiskinan yang ada dapat menjadi wasilah bagi kesuksesan orang lain dengan izin Allah swt. Anda tidak perlu menghiraukan suara-suara yang mendeskreditkan anda karena keadaan anda yang miskin! Tetapi anda harus membuktikan bahwa kemiskinan bukan hal yang hina di hadapan Allah swt, namun suatu yang mulia di hadapan Allah swt.
Tetapi tidak banyak orang yang miskin yang menyadari bahwa diri mereka menjadi wasilah bagi orang-orang yang mau menyantuni mereka dan menyayangi mereka untuk mencapai kesuksesan hidup. Dan banyak juga orang-orang yang kaya tidak menyadari kalau keberhasilan mereka meraih materi yang berlimpah juga atas doa orang-orang yang miskin yang hidup mereka sengsara penuh dengan duka. Mereka lupa bahwa doa orang-orang yang miskin sebagai pengantar keberhasilan mereka mendapatkan kesejahteraan hidup.
Saudaraku! Bencana di negeri ini sering terjadi barangkali dikarenakan banyak orang-orang kaya yang kurang memperhatikan nasib orang miskin dan menganggap orang-orang yang miskin adalah sampah atau hanya sebagai golongan yang hanya menjadi beban golongan yang lain. Saya yakin bila orang-orang yang kaya di negeri ini tidak merendahkan orang-orang miskin, orang-orang yang lemah maka bencana di negeri ini tidak akan pernah terjadi. Banyak orang kaya yang kehilangan hartanya karena mereka tidak mau menyantuni orang-orang miskin, sehingga rintihan mereka didengar oleh Allah swt sehingga Allah menurunkan bencana bagi orang-orang kaya yang kikir sehingga dengan bencana mereka menyadari kekeliruan sikap mereka terhadap orang-orang yang miskin. Bagi orang-orang kaya yang berbuat demikian dan mendapatkan musibah atas perbuatan mereka terhadap orang-orang miskin, maka mintalah maaf pada orang-orang miskin dan mintalah orang-orang miskin mendoakan anda agar anda dapat segera terbebas dari kesulitan karena bencana yang anda alami.

H. Orang-Orang Miskin Senantiyasa Akan Mendapatkan Berkah Dan Rahmat Allah Swt
Adalah hal yang sangat membahagiakan bagi anda saudara-saudaraku kaum fakir! Anda akan mendapatkan rohmat dan berkah atas kesabaran anda menghadapi ujian dari Allah swt dengan kekurangan harta (kemiskinan). Hal ini merupakan janji Allah yang terdapat dalam firman-Nya :
أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ (البقرة :١٥٧)
“Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al Baqoroh : 157).
Dalam Tafsir Al Jalalain dikatakan : kata sholawat pada ayat 157 dari QS. Al Baqoroh berarti ampunan sedangkan kata rohmah berarti kenikmatan. Bila berangkat dari tafsir tersebut di atas berarti orang-orang yang bersabar akan mendapatkan ampunan (maghfiroh Allah swt) dan mendapatkan kenikmatan dari Allah swt atas kesabaran mereka dalam menghadapi ujian yang menimpa diri mereka. Dengan demikian orang-orang miskin yang bersabar dengan kemiskinan yang menimpa diri mereka maka Allah akan memberikan ampunan atas segala dosa yang telah mereka lakukan dan akan memberikan kenikmatan berupa surga dan kelezatan di akhirat kelak.
Orang-orang miskin yang bersabar maka akan mendapatkan sanjungan Allah swt sanjungan di dunia dan di akhirat. Adalah kebahagian hidup apabila anda dipuji oleh yang menciptakan diri anda, yang memberi rizki anda yaitu Allah swt. Anda tentu merasa bangga dan bahagia apabila kita dipuji oleh Bupati, Presiden atau orang-orang yang posisinya menjadi atasan anda. Seharusnya anda lebih bahagia apabila kita dipuji oleh sang penggenggam kehidupan yaitu Allah swt. Apabila sang penggenggam kehidupan telah memberikan pujian kepada anda maka yakinlah kebahagiaan akan senantiyasa menyertai anda dalam kehidupan ini baik kehidupan di dunia maupun di akhirat kelak.
Kebahagian yang tidak boleh anda abaikan adalah adanya kebarokahan yang ada pada hidup anda. Keberkahan di sini maksudnya akan mendapatkan ketenangan hidup meskipun anda sekarang mungkin dalam kondisi kekurangan secara materi. Apabila ketenangan telah menjadi sahabat setia anda maka akan mudah bagi anda untuk mengatasi persoalan yang menimpa anda yang salah satunya adalah kesulitan dalam hal masalah ekonomi. Dengan ketenangan yang anda miliki anda dapat memfokuskan diri pada pekerjaan anda atau apapun bentuk usaha anda untuk memenuhi kebutuhan hidup anda. Karena banyak orang yang miskin menjadi setres bahkan gila karena tidak adanya kesabaran dalam diri mereka, sehingga tidak ketenangan pada diri mereka. Akibatnya mereka tidak bisa menyelesaikan permasalah ekonomi yang menimpa mereka. Apalagi orang-orang yang miskin yang mencari penghasilan dengan cara menipu, mencuri atau perbuatan haram lainnya sudah pasti tidak akan ada kebarokahan dalam kehidupan mereka sehingga hati mereka tidak tenang. Oleh karena itu saudara-saudaraku! Atasilah kesulitan anda pada masalah ekonomi dengan tetap menjaga kesabaran dan carilah rizki dengan cara yang halal sehingga kebarokahan senantiyas bersama anda.
Dan orang-orang yang mampu bersabar menghadapi kesulitan hidup adalah termasuk orang-orang yang mendapatkan petunjuk Allah swt. Mengapa? Sebab tidak semua orang mampu bersabar menghadapi kesulitan hidup termasuk kesulitan dalam masalah ekonomi. Oleh karena itu hendaklah anda bersabar menghadapi kesulitan ekonomi dalam hidup anda, karena sesudah kesulitan pasti akan ada kemudahan dan kemudah itu sebenarnya senantiyasa bersama anda. Dan kemudahan anda dalam menghadapi problematika kehidupan ini juga merupakan petunjuk Allah swt. Secerdas apapun manusia atau sehebat apapun anak manusia namun kalau dirinya tidak mendapatkan petunjuk Allah swt dalam menyelesaikan problematika yang ia hadapi dalam kehidupannya, maka mustahil ia akan mampu keluar dari kesulitan hidup yang ia hadapi. Mengapa demikian? Karena semakin orang itu mempunyai kecerdasan yang tinggi, kedudukan atau status sosial yang tinggi semakin besar problematika yang ia hadapi. Dengan kesabaran yang dimiliki seseorang maka Allah akan memberinya kekuatan untuk menghadapi riak gelombang kehidupan yang memang banyak ujian atau kesulitan yang memang harus dihadapi. Dan orang mukmin tidak boleh lari dari kesulitan yang di antaranya adalah kemiskinan.
I. Bersabar Dalam Kondisi Miskin Termasuk Ciri Orang Yang Beriman
Adalah hal yang sangat membahagiakan bagi orang-orang miskin yang bersabar dalam menghadapi kemiskinan yang menimpanya adalah mereka termasuk orang-orang yang benar-benar terbukti keimanan mereka kepada Allah swt. Hal ini dapat kita lihat dalam sebuah hadits yang menceritakan ketika Nabi Muhammad saw menemui para sahabat beliau. Beliau bersabda :
“Bagaimana keadaan kalian ketika memasuki pagi hari” Mereka menjawab: “ Kami berada dalam keadaan beriman kepada Allah.” Beliau bertanya : “Apa tanda-tanda keimanan kalian? Mereka menjawab :
1. Kami bersabar terhadap musibah
2. bersyukur atas nikmat kelapangan
3. dan menerima semua ketetapan Allah.
Beliau bersabda : Kalau begitu, kalian benar-benar orang-orang mukmin, demi Tuhan pemilik Ka’bah.
Berdasarkan hadits tersebut di atas dapat kita ketahui bahwa ciri-ciri orang yang beriman salah satunya adalah bersabar ketika mendapat ujian dari Allah swt . Bersabar ketika mendapat ujian dari Allah swt adalah mudah diucapkan, namun tidak mudah untuk mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Banyak jago-jago podium yang mudah sekali mengucapkan kata “sabar” namun ketika mendapatkan kesulitan hidup akhirnya kata-kata sabar yang sering diucapkan tersebut seakan-akan tidak ada bekasnya. Bahkan ada seorang mubaligh yang hanya karena kesulitan ekonomi kemudian dia murtad (keluar dari Islam). Ada juga orang yang tadinya rajin beribadah, namun karena kesulitan ekonomi akhirnya sholatnya, puasanya, zakatnya dan seluruh ibadahnya lenyap tidak berbekas. Manusia akan diakui keimanannya setelah ia diuji dengan kesulitan hidupnya, salah satunya adalah kesulitan ekonomi. Allah swt berfirman :
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آَمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ (العنكبوت :٢)
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? (QS. Al Ankabut : 2)
Menurut Ibnu Katsir dalam tafsirnya dikatakan bahwa Allah swt memberikan ujian kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dengan memperhitungkan keimananan yang ada pada hamba-hamba tersebut dan Allah swt tidak akan memberikan ujian melebihi batas kekuatan hamba-hamba-Nya yang beriman. Tidak mungkin Allah swt memberikan ujian kepada hamba-hamba-Nya di luar kemampuan mereka. Bila ada hamba-hamba Allah yang tidak kuat diuji barangkali keimanan mereka tidak kuat atau dengan kata lain keimanan mereka rapuh atau barangkali keimanan mereka telah hilang dari hati mereka. Bila keimanan telah hilang maka tidak ada lagi pegangan hidup mereka yang menjadikan mereka kuat hati mereka menerima ujian kehidupan ini. Allah swt berfirman :
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ (البقرة :٢٨٦)
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.” (QS. Al Baqoroh : 286).
Allah akan memberikan kemampuan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman untuk menghadapi ujian hidup yang memang tidak semua orang mampu menghadapinya.Banyak orang yang tidak kuat menghadapi kesulitan hidup sehingga tidak sedikit dari mereka yang meninggalkan agama Islam (murtad) karena masalah ekonomi yang melilit kehidupan mereka. Kita barangkali pernah membaca kisah hidup Hamran Ambrie yang dulunya adalah seorang tokoh dari salah ormas Islam terbesar. Kemudian karena masalah ekonomi maka ia meninggalkan agama Islam dan kemudian menjadi seorang pendeta yang sangat membenci agama Islam. Memang hanya keimanan kepada Allah swt sajalah yang akan dapat memberikan kekuatan terhadap kita menghadapi cobaan hidup termasuk masalah ekonomi. Ada juga kisah sahabat Nabi yang rajin beribadah ketika dalam kondisi miskin namun tidak bersabar menghadapi kemiskinan yang menderanya, sahabat tersebut bernama Tsa’labah. Sebenarnya Nabi Muhammad saw sudah menasehati Tsa’labah agar bersabar menghadapi kemiskinan yang menimpanya. Namun Tsa’labah tetap besikeras meminta kepada Nabi mendoakan Tsa’labah, yakni agar Tsa’labah terlepas dari kemiskinan. Maka Nabi Muhammad saw mendoakan Tsa’labah agar Tsa’labah lepas dari kemiskinan. Kemudian Tsa’labah diberi oleh Nabi dua ekor kambing dan akhirnya kambingnya Tsa’labah berkembang pesat. Setelah kambingnya semakin banyak Tsa’labah menjadi sering meninggalkan ibadah dan enggan membayar zakat. Akhirnya setelah hal tersebut disampaikan kepada Nabi maka nabi sangat murka terhadap Tsa’labah dan akhirnya Tsa’labah meninggal dengan suul khotimah. Dari kisah Tsa’labah tersebut bisa mengambil ibroh bahwa kekayaan yang ada pada diri kita bisa menghilangkan keimanan yang ada pada diri kita. Bersabar dalam kondisi miskin akan mengangkat derajat kita di akherat kelak.











BAB V
PERINGATAN UNTUK ORANG-ORANG YANG MISKIN
Pada bab terdahulu telah saya sampai mengenai berita gembira bagi orang-orang yang miskin apabila dia bersabar menghadapi kemiskinan yang menimpa mereka. Pada Bab ini akan saya sampaikan mengenai beberapa peringatan bagi orang-orang miskin yang tidak sabar menghadapi kemiskinan yang menimpa mereka. Adapun akibat orang-orang miskin yang tidak sabar menghadapi kemiskinan yang menimpa kehidupan mereka :
A. Akan Mendapat Murka Dari Allah Swt
Allah swt memerintahkan kepada semua hamba-Nya agar senantiyasa mensyukuri nikmat Allah swt yang telah diberikan kepada semua hamba Allah. Kenikmatan yang diberikan oleh Allah swt kepada manusia sangat banyak dan manusia tidak akan mampu menghitung nikmat Allah swt. Coba hitunglah beberapa liter udara yang kita hirup setiap harinya dan pikirkanlah seandainya sekali tarikan nafas kita kenai biaya oleh Allah swt Rp. 1.00,00, sudah pasti biaya udara yang kita tarik sangat mahal. Apalagi bila dihitung sejak kita masih bayi tentunya sangat besar biayanya. Belum lagi biaya untuk organ-organ tubuh yang lain, belum lagi biaya sinar matahari yang menyinari kita, air yang kita minum dan lain-lain. Allah swt menegaskan :
وَآَتَاكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ (ابراهيم : ٣٤)
“ Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim : 34).
Allah swt dengan gamblang menjelaskan kepada kita bahwa Allah swt memberikan kepada manusia apa saja yang mereka butuhkan. Namun kebanyakan manusia tidak mau bersyukur atas nikmat yang Allah berikan kepada mereka. Dan penyakit kufur nikmat ini juga menimpa orang-orang yang miskin, yakni mereka tidak mau mensyukuri rizki yang ada bahkan cendrung meniadakan peran Allah swt dalam hal masalah rizki. Bahkan ada sebagian orang-orang yang miskin menyalahkan Allah dengan ungkapan “mengapa Allah menjadikan saya sebagai orang yang miskin?” Sebenarnya jika mereka bersabar ketika ditimpa kesempitan rizki dan senantiyasa mensyukuri apa saja yang telah ada pada mereka dan berusaha untuk memenuhi kebetuhannya, insya Allah akan menambah kenikmatan yang ada pada mereka dan sebaliknya apabila mereka mengingkari kenikmatan yang Allah berikan kepada mereka, maka Allah akan menimpakan adzab yang pedih pada mereka. Allah swt berfirman :
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ (ابراهيم :٧)
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS. Ibrahim : 7).
Menurut Tafsir Jalalain ayat tersebut di atas berisi bahwa Allah swt memberi tahu kepada manusia jika manusia mau bersyukur atas nikmat Allah swt dengan menjaga ketauhidan Allah swt serta mentaati perintah Allah swt, maka Allah akan menambah kenikmatan yang ada padanya. Namun jika manusia mengingkari nikmat Allah swt dengan kekafiran dan maksiat maka Allah swt memberikan adzab yang sangat pedih.Oleh karena kepada sahabat-sahabatku para fakir miskin jangan sampai kemiskinan yang menimpa diri anda menjadi orang yang mengingkari nikmat Allah swt, meskipun menurut pandangan kita kecil (tanpa ada artinya), namun kita akan dapat merasakan nikmat tersebut apabila kita dalam kondisi terjepit. Contoh sederhana : Kita barangkali akan mudah sekali membuang air karena air di sekitar kita begitu melimpah, namun akan merasakan begitu berharganya air ketika kita berada di daerah yang sangat sulit mendapatkan air. Oleh karena itu syukurilah rizki yang ada pada kita supaya kenikmatan yang kita rasakan dicabut oleh Allah swt.
Bahkan Allah swt sangat murka kepada orang miskin yang tidak ridlo dengan takdir Allah, yaitu tidak sabar ketika ditimpa kemiskinan. Allah berfirman dalam Hadits Qudsi :
“Barang siapa yang tidak bersyukur atas nikmat-Ku dan tidak ridlo dengan ketetapan-Ku maka keluarlah dari langit-Ku dan carilah Tuhan selain Aku.” (Al Hadits).
Dalam hadits lain dikatakan :
“Barangsiapa tidak ridlo dengan qodlo-Ku dan tidak bersyukur dengan nikmat-nikmat-Ku serta tidak sabar dengan bencana-bencana-Ku maka bertuhanlah kepada selain Aku. (Al Hadits).
Dalam hadits lain dikatakan : “Barangsiapa tidak rela dengan ketentuan dan takdir-Ku, maka hendaklah ia mencari Tuhan selain Aku” (HR. Baihaqi).
Dalam hadits lain dikatakan : “Barangsiapa tidak ridlo dengan ketentuan-Ku dan tidak bersabar dengan ujian-Ku, maka hendaklah ia mencari Tuhan selain Aku.” (HR. Ibnu Hibban).
Betapa murkanya Allah swt terhadap orang yang mengingkari kenikmatan yang telah Allah swt berikan kepadanya, demikian juga Allah swt juga sangat murka kepada hamba-hamba-Nya yang tidak ridlo (tidak senang) menerima ketetapan Allah swt yang ketetapan tersebut biasanya sesuatu hal yang tidak menyenangkan, salah satunya ialah kemiskinan yang menimpa mereka. Orang-orang yang bersikap mengingkari nikmat Allah swt serta tidak ridlo dengan ketentuan Allah swt, maka orang-orang tersebut diusir dari langit milik Allah swt. Dan jika kita telah diusir dari langit oleh Allah swt kita akan lari ke mana? Oleh karena itu hendaknya orang-orang yang hidup dalam kemiskinan bersyukur atas nikmat Allah swt serta ridlo terhadap takdir dan ketetapan dengan takdir Allah swt. Apabila anda mau ridlo dengan ketetapan Allah swt meskipun kadang terasa pahit, maka Allah swt akan memberikan sesuatu yang menyenangkan yang barangkali tidak pernah anda pikirkan sebelumnya. Jauhkan diri anda dari sikap menghujat Allah swt bila anda mendapatkan kesulitan dalam hidup ini agar anda mendapatkan keridloan Allah swt! Bila Allah swt telah meridloi anda maka kesulitan hidup yang ada akan anda lalui dengan mudah.
Dalam hadits tersebut juga dikatakan bahwa Allah sangat murka terhadap orang-orang yang tidak sabar ketika mendapatkan ujian hidup, tidak sabar ketika mendapatkan kesulitan materi, tidak sabar ketika ditimpa kemiskinan. Oleh karena itu apabila anda ingin disayang oleh Allah maka bersabarlah ketika mendapatkan ujian dari Allah swt. Karena bila anda bersabar ketika mendapatkan kesulitan Allah Swt Akan Memberikan Kebaikan Yang Luar Biasa.
B. Akan Senantiyasa Dalam Kesulitan
Orang-orang yang tidak sabar dalam menghadapi kesulitan hidup karena masalah ekonomi, maka ia akan senantiyasa dalam kesulitan. Mengapa hal itu bisa terjadi? Sebab orang tersebut senantiyasa berperasangka buruk kepada Allah swt dan akibatnya orang tersebut mendapatkan sesuatu dari Allah swt sesuai dengan prasangkanya kepada Allah. Dalam hadits Qudsi Allah swt berfirman :
انا عند ظنّ عبدي بي (الحديث)
“Aku tergantung prasangka hamba-Ku kepada-Ku.” (Al Hadits).
Berdasarkan Hadits Qudsi di atas kita dapat mengetahui bahwa apabila kita berprasangka buruk pada Allah maka kita akan mendapatkan akibat yang buruk. Banyak orang yang gagal karena ketika berdoa dan berusaha tidak meyakini kekuasaan Allah swt. Bahkan ada yang beranggapan bahwa Allah swt pelit, tidak adil, tidak mendongarkan doanya. Dan apabila orang tersebut mempunyai prasangka kepada Allah swt demikian, maka jangan berharap apa yang ia cita-citakan tidak akan pernah berhasil.
Dalam kehidupan sehari-haripun seseorang mengalami kegagalan karena dirinya mempunyai rasa negatif terhadap dirinya. Banyak orang yang cerdas namun karena tidak mempunyai keyakinan terhadap kemampuannya maka setiap langkah yang diambil selalu salah dan setiap usaha yang ia lakukan senantiyasa mengalami kegagalan. Menurut ilmu psikologi kesuksesan seseorang itu dipengaruhi bagaimana seseorang itu berpikir positif atau berpikir negative terhadap dirinya. Orang yang selalu berfikir negatif terhadap dirinya sendiri cendrung tidak mampu melepaskan dirinya dari kesulitan-kesulitan hidupnya. Orang yang senantiasa berfikir negatif terhadap dirinya ia akan beranggapan bahwa dirinya orang yang paling hina, orang yang paling bodoh dan lain sebagainya. Oleh karena itu agama melarang manusia mempunyai pikiran negatif terhadap dirinya sendiri. Allah swt berfirman :
وَلاَتَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ )الحجارة : ١١(
“Dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri” (QS. Al Hujarot : 11)
Apabila anda selalu mencela diri anda sendiri maka hal tersebut sudah pasti akan menghilangkan semangat anda untuk berjuang mengatasi kesulitan hidup yang anda alami. Bila anda sudah kehilangan semangat berjuang untuk mengatasi kesulitan hidup, maka sudah dapat dipastikan anda akan selalu berada dalam kesulitan yang tidak akan pernah berakhir. Oleh karena itu sebagai seorang mukmin hendaknya sikap mencela diri sendiri, pesimis, minder harus dibuang jauh-jauh dari kamus kehidupan orang yang mengaku dirinya seorang mukmin. Jika anda masih mencela diri sendiri berarti anda kalah dengan bintang-binatang yang hidup di sekitar anda. Mengapa? Karena binatang yang paling lemah misalnya semut. Mereka tidak pernah mencela diri sendiri ketika mengalami kesulitan. Begitu juga dengan binatang-binatang yang lain, mereka tidak pernah berhenti berjuang untuk mempertahankan hidup mereka. Apakah anda tidak malu ketika anda senantiyasa diliputi perasaan kecewa pada diri sendiri karena mengalami suatu kegagalan atau kesulitan hidup? Ingat binatang-binatang tersebut tidak mempunyai akal sedangkan anda mempunyai akal yang sehat yang dapat dipergunakan untuk menghadapi kesulitan hidup.
Setiap mukmin hendaknya menjauhi sikap pesimis dalam menghadapi kesulitan hidup, karena orang-orang mukmin mempunyai senjata yang sangat ampuh yakni doa. Nabi saw bersabda :
“Doa adalah senjata orang beriman.” (Al Hadits)
Karena doa sebagai senjata yang sangat ampuh dalam menghadapi persoalan hidup, maka hendaknya orang yang mengaku beriman senantiyasa meyakini kekuatan doa. Dengan adanya keyakinan dengan kekuatan doa yang dibacanya setiap saat, maka orang yang mengaku dirinya beriman akan mempunyai sikap optimis dalam menghadapi segala kesulitan hidup di dunia ini. Jika sikap optimis telah mengakar di hati maka sudah dapat dipastikan kesulitan hidup yang dihadapinya akan dapat diatasi dengan baik.
C. Akan Mendapatkan Kehinaan Di Dunia Dan Di Akhirat
Orang-orang miskin yang tidak sabar menghadapi kemiskinan yang menimpa kehidupan mereka akan mendapat kehinaan di dunia dan di akhirat. Orang-orang yang tidak sabar dengan kemiskinan yang menimpa mereka pasti akan melakukan apa saja tanpa peduli apakah halal atau haram dalam mencari rizki untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Banyak di antara mereka yang menjadi pencuri, perampok, penipu dan perbuatan terlarang lainnya untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Padahal jelas perbuatan tersebut sangat dilarang oleh agama. Allah swt memerintahkan agar manusia mencari makanan yang halal dan yang baik-baik. Allah swt berfirman :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الأرْضِ حَلالا طَيِّبًا وَلا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ (البقر ة : ١٦٨)
“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu. (QS. Al Baqoroh : 168).
Allah swt memerintahkan kepada manusia untuk mencari makanan yang halal dan yang baik, baik dari segi cara memperolehnya atau baik dari segi jenis makanannya. Karena ada makanan yang baik dan halal namun cara memperolehnya haram sebaliknya ada makanan yang tidak halal dan baik meskipun cara memperolehnya halal. Mencari makanandengan cara yang harom merupakan salah satu bentuk manusia mengikuti langkah-langkah syetan. Dan Allah swt menegaskan bahwa syetan adalah musuh manusia yang harus diperangi.
Orang yang mencari rizki dengan cara yang haram tentunya akan dibenci oleh orang-orang di sekelilingnya. Orang¬-orang yang mencari makanan dengan cara yang haram akan dipandang hina oleh orang-orang yang berada di sekelilingnya, misalnya : pelacur, pengemis dan lain sebagainya. Bahkan Al Quran juga tegas melarang mencari rizki dengan cara mencuri. Allah swt berfirman :
وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالا مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (المائدة :٣٨ )

“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al Maidah : 38).
Perbuatan mencuri merupakan perbuatan yang dilarang oleh Allah swt, oleh karena itu Allah menyuruh kita agar memotong tangan seorang pencuri yang telah melakukan aksinya. Seseorang yang pekerjaannya suka mencuri tanpa mau bersusah payah mencari rizki dengan cara yang halal, maka kehinaanlah yang akan diterima.