Kamis, 26 Desember 2013

MELURUSKAN BACAAN AL QURAN UNTUK PARA IMAM SHOLAT

Kita sering mengikuti sholat jama'ah baik di masjid dan di musholla. Dan ketika berjamaah di masjid ataupun di musholla ketika sering mendapati kesalahan yang fatal pada bacaan Al Quran para imam tersebut. Dan hal ini sering tidak dipahami oleh masyarakat, padahal dalam fiqih salah satu syarat untuk menjadi imam adalah mereka yang paling fasih bacaannya. Tapi ada juga sebagian masyarakat yang tidak peduli apakah bacaan Imam itu benar ataupun tidak, bagi mereka yang penting sholat jama'ah.
Namun bagi penulis, kesalahan imam dalam bacaan Al Quran juga berpengaruh dengan sah dan tidaknya sholat. Bacaan Al Quran yang yang amburadul bukannya menambah khusyuknya sholat tapi akan menambah kekacauan di dalam sholat itu sendiri. Misalnya seorang Imam membaca Al Fatihah dengan urutan yang tidak sesuai dengan aturannya sudah pasti sholat akan rusak. 

Senin, 07 Oktober 2013

DARI HAMRAN AMBRIE KE SAIFUDDIN IBRAHIM


Bapak Murtadin 


Penerus Hamran Ambrie

Sosok Hamran Ambrie merupakan tokoh yang sangat populer bagi kalangan misionaris terlebih ia adalah mantan tokoh Islam  yang konon sangat terkenal. Pola pikir Hamran Ambrie dalam mengkritisi ajaran Islam baik Al Quran dan Hadits  banyak dijadikan rujukan oleh generasi penerusnya, yakni para murtadin yang kemudian menjadi para penginjil. Dan memang kalau kita perhatikan dengan seksama para penginjil eks murtadin tidak bisa lepas dari pola pikir Hamran Ambrie. Isi kritikan mereka terhadap Islam sama dengan isi kritikan Hamran Ambrie terhadap Islam. Salah satu contoh kritik Hamran Ambrie terhadap Islam adalah masalah mengenai kemukjizatan Nabi Muhammad saw. Menurut Hamran Ambrie dalam salah satu makalah yang diberi tanggapan oleh KH. Abdullah Wasi'an dalam bukunya Islam menjawab ia mengatakan bahwa Nabi Muhammad saw tidak memiliki mu'jizat.
Pendapat bahwa Nabi saw tidak memiliki mu'jizat juga diikuti oleh Saifuddin Ibrahim seorang pendeta yang konon mantan Ustadz  di PP Az Zaitun. Hal ini dapat kita saksikan dalam vedeo yang ia buat ketika berdebat dengan Ustadz Moko Gintan. Adalah sangat menggelikan seseorang yang mengaku sebagai mantan Ustadz bahkan guru besar yang mengajar Al Quran tidak bisa memahami makna mu'jizat, sehingga ia menuduh Nabi Muhammad saw tidak memiliki mu'jizat. Bila dia mau membaca sejarah banyak sekali literatur-literatur yang membahas mu'jizat Nabi Muhammad saw, seperti : bulan terbelah menjadi dua, dari jari-jari beliau keluar air yang bisa digunakan untuk keperluan para sahabat dan mu'jizat terbesar adalah Al Quran.Sebagai bukti Al Quran sebagai mu'jizat Nabi saw adalah Al Quran adalah keotentikannya yang terjaga hingga akhir zaman. Adanya klaim kalau Saifuddin sebagai Guru Besar Al Quran perlu dipertanyakan. Mengapa? Seorang guru besar Al Quran seharusnya paham benar dengan Al Quran. Tetapi sepertinya Saifuddin Ibrahim tidak memahami  Al Quran dengan sebenarnya.Hal ini dapat diketahui dengan pernyaatannya mengenai mu'jizat Nabi Muhammad saw.
Ada kesamaan latar belakang keduanya murtad dari agama Islam yaitu masalah ekonomi. Keduanya murtad dari Islam karena tidak tahan menghadapi kesulitan hidup yang berupa kesempitan ekonomi. Adalah sangat memalukan seseorang yang menjadi panutan suatu agama tertentu (tokoh agama tertentu) pindah agama karena materi semata bukan berdasarkan perenungan yang dalam apalagi kedua tokoh tersebut mengaku sebagai tokoh muslim yang ilmunya mendalam.
Keritik yang mendasar pada kedua tokoh tersebut adalah ketika mereka menyampaikan keritik kepada Islam dilandasi kebencian dan tanpa dilandasi dengan landasan yang kuat (tsiqqah) sehingga keritikan-keritikan kedua tokoh tersebut mudah dipatahkan bagi orang-orang yang ilmunya mendalam. Dan sebenarnya keritikan mereka terhadap Al Quran bisa dipatahkan dengan landasan Bible.Hamran Ambrie dan Saifudin Abraham merupakan generasi penerus dari para pendahulunya yakni Kyai Sadrach yang telah murtad terlebih. 




Kamis, 01 Desember 2011

PENTINGNYA PEMBIPENTINGNYA PEMBINAAN BACA TULIS AL QURAN BAGI PENGHULU


Penghulu merupakan jabatan satrategis yang mempunyai peran yang sangat besar di dalam masyarakat. Hal ini dikarenakan penghulu sering terjun langsung di masyarakat di samping petugas Penyuluh Agama. Setiap elemen masyarakat dari rakyat miskin sampai dengan pejabat tinggi pasti pernah berhubungan dengan penghulu. Tidak ada satupun dari elemen masyarakat yang tidak berhubungan dengan penghulu.
Berkaitan dengan peran penghulu di masyarakat, sebagian masyarakat ada yang mengkritisi kemampuan penghulu dalam melaksanakan tugasnya. Apalagi jika penghulu yang bertugas di lingkungan masyarakat yang mempunyai kemampuan agama tinggi (lingkungan pesantren), maka penghulu tersebut hendaknya mempunyai bekal yang memadai dalam bidang tugasnya yang berkaitan dengan aqad nikah, misalnya : khutbah nikah, membaca doa atau kadang di minta membaca doa dalam acara-acara yang berkaitan dengan keagamaan. Tanpa adanya bekal yang memadai akan menyebabkan penghulu yang bersangkutan kesulitan menjalankan tugas-tugas tersebut di atas.
Salah satu bekal yang perlu dipersiapkan dengan matang bagi penghulu adalah peningkatan kualitas penghulu di dalam masalah baca tulis Al Quran. Hal ini dikarena masih banyak penghulu yang kualitasnya dalam membaca Al Quran sangat rendah. Hal ini sesungguhnya sangat ironis dan sangat memprihatinkan, meskipun hal tersebut tidak berpengaruh dengan sahnya akad nikah. Tetapi kesalahan yang fatal bagi penghulu ketika membacakan ayat Al Quran pada acara pernikahan akan merusak suasana sakral acara ijab dan qobul yang sedang dilaksanakan. Apalagi bila yang menjadi saksi pada acara akad nikah tersebut orang yang mempunyai kemampuan Al Quran sangat bagus pasti akan menyangsikan tentang sah atau tidaknya prosesi ijab dan qobul tersebut.
Namun hal ini para penghulu belum mempunyai perhatian yang khusus mengenai kelemahan mereka dalam membaca Al Quran. Akibatnya mereka tanpa beban ketika melaksanakan tugas di lapangan. Dan hal ini sangat berbahaya bagi profesionalisme mereka dalam menjalankan tugas. Lebih diperparah lagi kurangnya pembinaan untuk meningkatkan kualitas para penghulu dalam membaca dan menulis Al Quran. Padahal kesalahan dalam membaca Al Quran bukan menambah pahala bagi para pembacanya, namun justru dosa yang diperolehnya. Bahkan Nabi saw menyatakan orang yang tidak membaca Al Quran tidak bertajwid, maka ia tidak di akui sebagai golongan beliau. Dan bila hal ini terjadi maka keabsahan ijab dan qobul yang dilakukan oleh penghulu yang bersangkutan masih dipertanyakan bahkan diragukan. Dan ini menjadi suatu keprihatinan tersendiri, terutama bagi kalangan yang mumpuni dalam bidang baca tulis Al Quran (para Qori’).
Kita sering menjumpai seorang penghulu yang fatal kesalahannya dalam melafalkan kalimat-kalimat Arab, misalnya : Astaghfirullah dibaca asta’firulloh, kata uzawwijuka ‘ala maa amaralloohu bihi dibaca uzawwijuka a’laa amrullahu bihi, kata aghozhzhu lil bashor dibaca audu lil bashor. Kesalahan-kesalahan tersebut bila didengarkan oleh orang yang bahasa Arab dan ahli Al Quran sangat menggelikan. Ketika kesalahan tersebut terjadi pada masyarakat awam mungkin tidak bermasalah, namun ketika kesalahan fatal terjadi pada seorang penghulu yang masyarakat mempunyai asumsi seorang penghulu adalah seorang yang mumpuni dalam bidang agama merupakan suatu masalah besar.

Senin, 12 September 2011

BERSAHABAT DENGAN KEGAGALAN


Ketika anda membaca tulisan ini mungkin anda akan bertanya-tanya "Mengapa harus bersahabat dengan kegagalan dan bukankah kegagalan akan membuat kita kecewa?" Bila dilihat dengan sepintas orang akan setuju dengan pernyataan anda kalau kegagalan itu menyakitkan. Tapi sebenarnya dibalik kegagalan ada hikmah yang luar biasa dan kita akan tahu hal tersebut setelah kita mengalami. Orang yang berhasil (sukses) bukanlah orang yang hidup tanpa kegagalan, namun orang yang sukses adalah orang yang berhasil menerima ketika mengalami kegagalan dan mampu mengatasi kegagalan yang dialaminya. Banyak orang yang ketika mengalami kegagalan akan depresi (stress berat), sedih yang berlarut-larut atau bahkan ada yang menjadi gila, yang lebih mengerikan lagi bahkan ada yang nekat bunuh diri. Misalnya ada orang yang karena patah hati seseorang nekat bunuh diri bahkan ada yang memutuskan untuk melajang selama hidupnya. Ada juga yang karena jabatannya tidak naik lantas ia menyalahkan orang lain (atasannya) atau dengan kata lain ia akan mengkambing hitamkan orang lain. Jika kita hanya berkutat dengan kesedihan yang berlarut-larut karena kegagalan yang kita alami, maka permasalahan tidak akan selesai. Sebagai orang yang beriman Allah swt telah memberikan problem solving terhadap berbagai macam kesulitan hidup. Di dalam QS. Al Insyrah 5 dikatakan : "Sesungguhnya bersama kesusahan terdapat kemudahan."
Banyak orang yang hampir putus asa ketika mereka hendak mewujudkan cita-citanya, namun setelah mendapat support dari berbagai pihak dan setelah merenung dengan pikiran yang jernih maka timbul semangatnya untuk kembali memperjuangkan cita-citanya hingga akhirnya berhasil. Kita bisa baca cerita Thomas Alva Edison yang berhasil menciptakan lampu setelah mengalami kegagalan 999 kali bahkan Thomas sempat dianggap bodoh dan banyak sekolah yang menolaknya. Dalam pekerjaanpun kita sering mengalami kegagalan misalnya : membuat laporan keuangan yang baik, memanfaat sarana kerja yang berbau teknologi. Sudah seharusnya kita tidak takut mengalami kegagalan dan tidak perlu menjadikan kegagalan sebagai musuh atau monster, namun jadikanlah ia sebagai sahabat yang baik sehingga kegagalan tidak akan membunuh kreativitas kita namun kegagalan akan mengasah kreativitas kita. Bukankah tidak orang yang bisa lepas dari kegagalan? Namun yang perlu diingat jangan sampai kita gagal mengatasi dan menelukkan kegagalan.
Kegagalan tidak hanya masalah ekonomi semata, namun kegagalan bisa pada masalah :

1. Kegagalan berumah tangga.
2. Kegagalan masalah asmara (ditolak lawan jenis).
3. Kegagalan mendidik anak.
4. Kegagalan mempunyai keturunan bagi yang sudah berkeluarga.
Penulis ingin sampaikan beberapa tips mengatasi kegagalan :
1. Jangan terlalu bersedih hati (kecewa) ketika mengalami kegagalan.
2. Cari sebab-sebab kegagalan kita.
3. Berpikirlah positif pada anda dan orang lain ketika mengalami kegagalan.
4. Berusahalah mencari strategi untuk mengatasi kegagalan kita.
5. Berdoa kepada yang Maha Kuasa.
Demikian sedikit artikel ini, semoga dapat memberikan kepada anda semangat untuk mengatasi kegagalan dan dapat mengantar kepada anda pintu kesuksesan. Ingat Bung Karno mengalami lebih dahulu pahitnya penjara sebelum merasakan empuknya kursi kepresidenan.

Kamis, 25 Agustus 2011

KERIKIL-KERIKIL TAJAM DALAM RUMAH TANGGA BARU






Banyak orang yang belum menikah atau masih dalam dunia masa berpacaran adalah penuh dengan keindahan, apalagi yang dinikahi adalah orang yang sangat dicintainya. Namun benarkah demikian adanya? Penilaian tersebut tidaklah mutlak benar namun tidak salah. Alasannya banyak kita jumpai rumah tangga baru yang bahagia dan jauh dari kerikil-kerikil tajam. Namun tidak sedikit rumah tangga baru yang sedang dibangun harus kandas di tengah samudra asmara karena adanya beberapa faktor. Adapun faktor-faktor penghancur rumah tangga adalah sebagai berikut :
1. Adanya sifat ego masing-masing pasangan yang dibawa sejak masih masa lajang dan tidak bisa dieliminir.
2. Masing-masing pasangan tidak memahami kekurangan pasangannya sehingga menuntut pasanganya harus perfect (sempurna), sehingga tidak mau menerima kekurang pasangannya.
3. Adanya pihak ketiga yang ikut intervensi dalam rumah tangga baru, baik mertua atau saudara dari salah satu pasangan.
4. Masing-masing pasangan masih mengingat pacar lama, sehingga muncullah perselingkuhan .
5. Adanya wil/ pil dalam rumah tangga baru tersebut.
6. Sudah menikah lama tapi belum punya keturunan.
7. Suami belum bekerja mapan.
Bila faktor-faktor tersebut bisa dihadapi dengan tenang dan sabar, maka prahara dalam rumah tangga baru akan dapat dihindari. Namun apabila hal-hal tersebut tidak dapat diatasi, maka sudah pasti rumah tangga akan hancur. Nabi saw sebagai manusia teladan dalam berumah tangga karena selama berumah tangga Nabi jarang ceckcok dengan isteri-istei beliau. Bagaimana dengan kita. Lalu bagaimana cara mengatasi hal-hal tersebut di atas? Langkah-langkah untuk mengatasi hal-hal tersebut di atas adalah :
1. Hilangkan sifat ego pada masing-masing pasangan.
2. Memahami kelebihan dan kekurangan masing-masing pasangan.
3. Hindarkan intervensi dari pihak ketiga dalam rumah tangga anda.
4. Lupakan pacar lama dan yakinlah bahwa orang yang nikah dengan anda adalah sebaik-baik orang yang ditakdirkan untuk anda.
5. Jauhi Pil dan Wil karena pasangan andalah yang terbaik untuk anda.
6. Bersabar bila anda belum punya keturunan.
7. Suami hendaknya serius dalam mencari rizki meskipun belum mapan namun yang penting adalah bekerja dan mempunyai penghasilan tidak meminta-minta.
Itulah sedikit langkah untuk menghindari kerikil-kerikil rumah tangga baru yang bisa mengancam kelangsungan rumah tangga. Semoga berhasil!

Senin, 14 Februari 2011

SEPUTAR KATA ALLAH


Beberapa waktu yang lalu saya mendapatkan sebuah artikel yang cukup menarik yang dikarang oleh Pendeta Dr. Bambang Noorsena mengenai kata Allah yang menurut hemat saya perlu saya komentari. Menurut Bambang kata Allah bila dilihat dari segi nahwu maka kata tersebut termasuk isim musytaq. Benarkah demikian? Marilah kita perhatikan dengan seksama apa yang dimaksud dengan isim musytaq tersebut. Di dalam berbagai sumber kitab-kitab nahwu diterangkan bahwa Isim Musytaq adalah kata benda yang terbentuk dari kata lain yang biasanya berupa kata yang menggambarkan sifat.Kita ambil contoh kata kitab (buku) berasal dari kata kataba (seorang lelaki telah menulis) dan kataba merupakan fi'il madli. Dan fi'il madli menurut sebagian ulama dikatakan sebagai asal usul kata. Sedangkan sebagian lain mengatakan bahwa mashdar (kata benda)sebagai asal usul suatu kata. Berdasarkan uraian singkat di atas marilah kita lihat dengan seksama benarkah kalau Allah itu berbentuk isim musytaq? Kata Allah tidak punya asal usul kata, karena diterapkan dengan metoden fa'ala-yaf'ulu (ilmu shorof) tidaklah pas. Sedangkan ungkapan yang mengatakan kalau kata Allah itu adalah al ilah adalah kurang tepat. Mengapa? Karena kata al ilah adalah isim ma'rifat dari kata ilah yang artinya sesembahan yang masih berifat umum (isim nakirah) sedangkan kata al ilah berarti sesembahan yang sudah lebih bersifat khusus (isim nakirah). Sebagimana kita ketahui bersama bahwa isim nakirah adalah suatu kata benda yang sifatnya misalnya kitab (buku) sifatnya tidak jelas buku apa, milik siapa buku tetapi bila ditambah dengan kata al maka ia menjadi alkitab (buku itu) maka ia sudah jelas dan sudah bersifat umum karena sudah ada kata al yang dalam istilah nahwu disebut alma'rifat. Dengan uraian di atas maka penulis tidak setuju dengan Pak Bambang yang menyatakan kalau kata Allah termasuk isim musytaq.

Jumat, 04 Februari 2011

MENGKRITISI TILAWATIL INJIL*



Beberapa waktu yang lalu saya menjelajah ke internet dan membuka pada link Injil Berbahasa Arab. Dan saya sempat mendown load bunyi Tilawatil Injil tersebut. Bagi mereka yang tidak paham dengan lagu-lagu seni baca Al Quran pasti akan mengagguk-angguk mendengarkannya. Bahkan barangkali sebagian dari orang-orang yang awam akan agama akan menganggap bahwa itu bacaan Tilawah Al Quran.
Ada beberapa catatan yang ingin saya sampaikan untuk mengkritisi Tilawah Injil karena kebetulan saya terjun di dunia Tilawatil Quran cukup lama (bukan untuk sombong loh, namun untuk lebih meyakinkan anda terhadap apa yang akan saya sampaikan). Catatan-catan tersebut adalah sebagai berikut :
1. Lagu dalam Tilawah Injil tidak jelas apakah bayati, shoba', hijaz dan sebagainya. Artinya sang qori' kurang atau bahkan boleh dikatakan tidak menguasai lagu tilawah.
2. Pengucapan huruf-huruf Arabnya sangat tidak fasih kalau dalam musabaqoh tilawatil quran fashohahnya sangat kurang.
3. Dalam pengaturan nafas dan suara kurang harmoni dan tidak enak didengar (bandingkan dengan suara Ustadz Muammar Z.A).
Untuk itu kepada sang pelantun tilawah injil hendaknya :
1. Lebih mengenal lagu-lagu tilawah biar tidak rancu dalam membawakan lagu-lagu tilawah.
2. Lebih melatih fashohnya agar huruf-huruf yang dibaca tidak merusak maknanya.
3. Melatih suara dan nafas agar keduanya lebih serasi dan enak didengar.
4. Hendaknya sang pembaca injil lebih memperdalam bahasa Arab supaya dalam pemenggalan ayat satu dengan yang lain lebih pas.
Kita hendaknya tidak perlu terkagum apabila mendengarkan tilawah injil karena sebenarnya kalau kita cermati dengan seksama, maka kita akan tahu kelemahan tilawatil injil, dan sangat kalah jauh dengan tilawatil quran. Tidak dibenarkan pendapat yang mengatakan kalau tilawatil quran meniru-niru tilawatil quran. Karena membaca al Quran dengan lagu memang diperintahkan oleh Rasulullaah saw, bahkan kita diperintahkan untuk memperindah suara kita apabila kita membaca Al Quran.
Dan kepada saudara-saudara seagama (moslem) tidak perlu bingung dengan adanya tilawah injil karena tilawah injil hanyalah injil berbahasa Arab yang dilagukan dengan lagu Arab. Dan seperti itulah budaya Arab yang sebenarnya agak tipis perbedaan antara Muslim dan Non Muslim Arab. Namun yang jelas sebenarnya Nabi Isa atau Yesus bukan orang Arab namun beliau orang Israel, sehingga tidak pas kalau Injil dilagukan dengan lagu dan bahasa Arab namun dibaca dengan lagu dan bahasa Israel.

*Penulis Juara 3 MTQ antar mahasiswi tingkat Provinsi DIY Jateng tahun 2001.